Senin, 14 Oktober 2013

Move On Islami

Assalamu'alaikum ikhwan akhwad fillah, kaifa haluk? Pasti khoir kan? ana berdoa semoga rahmat Allah menaungi kita semua. Saat ini kita pengen ngomongin tentang cinta lagi nih. Sebuah kata yang katanya bisa membuat tertawa, senyam senyum sendiri padahal itu tidak tahu cinta atau godaan syaitan.
Cinta katanya juga bisa membuat orang menangis bahkan stress bunuh diri. Nah jadi yakin ga sih itu cinta atau godaan setan. Jadi ketahuilah ini adalah godaan syaitan yang di bungkus dengan warna merah jambu. Dan ini semua dapat membuat orang terlena hingga membuat perbuatan yang mendekati zinah yang biasa di sebut "pacaran". Lalu banyak mereka yang terjebak dalam maksiat pink ini sehingga sulit untuk keluar dari jeratan maksiat ini.

Pernah suatu saat saya menemukan teman saya berkata seperti ini "gue disakitin nih sama orang yang gue sayang".
"ciiiyuuuus? anugrah dari Allah tuh kawan"  saya jawab saja gitu. Lalu dia menanyakan  "gimana sih pindah dari pacar yang masih kita sayang?".
So pasti jawaban "move on" adalah satu satunya jawaban.
Iya ga? iya dong ^_^
Tapi move on yang seperti apa si yang sebaiknya.

Klo kata orang sih (kata orang2 nih ya) move on itu pindah aja cari cinta baru. cari orang yang lebih baik. Tapi kata saya itu sih sama aja, (tiba-tiba yang baca jatoh kaya di anime gitu,hehe). Karena menurut saya semua orang pacaran pasti ada kepentingan, entah itu kepentingan nafsu, harta, senang-senang, harga diri, rasa ingin dilindungi atau apa aja, banyak lah kepentinganya.

Jadi gimana nih "move on" yang sesuai sama islam? Biar bisa pergi dari jeratan syaitan yang di bungkus indah dalam bentuk hati ^_^
Ya sama aja, cari cinta baru juga. Tapi (ada tapinya nih) bukan cinta ke hal yang gampang hancur. Tapi cinta yang abadi. yang membuat kita tenang merasakannya.
cinta apa itu? apa hayo?

Ya itulah cinta kepada Allah. Mari kita ubah rasa cinta yang kepada manusia menjadi cinta kepada Allah. Soalnya kalo di liat zaman sekarang cinta kepada manusia itu udah ngelebihin cinta kpd Allah , iya ga?
Mereka berkata hanya pacarnya yang dapa memberi kebahagiaan. Kufur nikmat amat nih orang, udah banyak kenikmatan yang di berikan Sang Maha Pemberi, tapi dia cuma mengakui kebahagiaan hanya dari pacarnya.

So? Ayo "move on". Ayo kita perbarui cinta kita. Dari mencintai selain Allah menjadi mencintai Allah secara sepenuhnya. Karena orang beriman itu sangat mencintai Allah seperti dalam surah Al-baqarah berbunyi

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(2:165)

Lalu bagaimanakah cara  untuk mendapatkan kecintaan tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.


-          Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]

-          Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib.  Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

-          Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

-          Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

-          Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah,  fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).

-          Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

-          Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

-          Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

-          Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian  dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

-          Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.

Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.

Mungkin hanya itu saja yang dapat ana tulis di sini, semoga bermanfaat yah ^_^


Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
wallahu'alam bish-showab
  
Sumber: Madaarijus Saalikin, 3/ 16-17, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Darul Hadits Al Qohiroh

Azmul Pawzi (ditulis pada 17 oktober 2012)

0 komentar:

Poskan Komentar