Sabtu, 23 November 2013

ASTEK / Jurnalistik Siswa SMAN 101 Jakarta


Ini adalah salah satu ekskul yang saya ikuti. Ekskul yang saya ikuti dari kelas satu. Ini adalah ekskul yang ngurusin majalah dinding (madding) juga Majalah sekolah. Awalnya saya maksud ekskul ini karena katenya bisa menyalurkan bakat menggambar, menulis dan menggambar. Saat itu kemampuan puisi dan menulis saya itu bisa dikatakan nol. Saya merasa tulisan saya yang bagus dan agak bener ya pas kelas tiga SMA. Waktu itu ya Cuma nulis-nulis ga jelas. Puisi dan syair yang ditulis juga tentang hal-hal yang gothic. Maklum soalnya waktu kelas satu SMA bacaannya komik kaya Deathnote, Black Butler, Petit Cossette dan berbagai komik yang nuansanya gelap semua. Haha
Nah, karena tulisan saya yang ga begitu bener. Jadi saya Cuma mau mengalirkan kemampuan gambar saya aja. Walaupun gambar ya ala kadarnya. Tetapi entah mengapa kata teman bagus. Ya kita terima aja pujian itu, itung-itung nyenengin hati. Hehe.  Jadi kemampuan yang saya berikan ke organisasi itu cuma kasih gambar, komik dan lain-lain lah.  
Lomba Mading 3D di UNJ
Ya bisa dikatakan cukup minim-lah. Diajak ngumpul buat bikin madding juga sering kabur dan banyak alasan. Hoho. Ketahuan bandelnya, dan bikin kakak-kakak kelas tuh marah-marah. Oh iya, untuk anggota awal ketika saya kelas satu itu Cuma bertiga. Saya, Youngky dan Riska. Kedua temen saya ini akhirnya menjadi ketua mading dan ketua majalah. Saya menjadi pendukung mereka. Satu lagi, pada saat itu anggota cowo Cuma saya dan youngky aja. Entah mengapa ekskul ini dikit sekali peminat cowonya. Walaupun pada akhirnya banyak anggota cowo yang ikut. Tapi gitulah, anggota cowo sebagai anggota rusuh. Haha.
Nah pengalaman yang berharga itu ketika membuat majalah sekolah. Saya beberapa kali mewawancarai artis untuk dikorek-korek informasi dari mereka untuk dimasukkan majalah sekolah yang bernama “Cress” (Creativity of Seratus Satu). Saya terlibat dalam pembuatan cress empat dan cress lima. Majalah sekolah ini Cuma terbit setahun sekali karena. Bbweeeeeeehh….. Ribet dan dananya butuh banyak. Artis yang pernah diwawancarai saya diantaranya Eno Netral, Mischa Kembarannya Marcel, Killing Me Inside dan sebagainya.
Makan-makan setelah wawancara ke Trans Studio
Sebagai wartawan yang mencari artis banyak duka dan sukanya. Pernah kita ramai-ramai ke studio Trans TV tapi ternyata artisnya ga ada. T.T. sediiiiih. Bahkan dijalan sempet marah-marahan, bahkan saya sampai lempar helm (galak bener yak). Tapi itulah suka dukanya, kadang artisnya ga ada, artisnya sombong dan ga mau diwawancarai, dan ada juga artis yang bikin kita ribet dengan hubungi manajer dulu lah atau sebagai lainnya. Padahal artis itu udah didepan kita. Ya sudahlah, itu hak mereka menjadi artis.
Nah pengalaman yang paling ga saya lupain waktu itu janjian sama manajernya Last Child dan Killing Me Inside. Kita janjian jam lima ditempat mereka suka nongkrong. Sepulang sekolah langsung kami tancap gas buat menemui itu band. Jarak sekolah kami yang dijakarta barat agak sedikit jauh ke tempat nongkrong mereka. Tapi tetap kami hajar. Sesampai disana kami menunggu. Sangat lama kami menunggu bahkan sampai jam delapan. Dahsyatkan? Janjian jam lima, sampai jam delapan ga ada kabar. Setelah lama kita menunggu ternyata vokalist Last Child lagi sakit, jadi Cuma bisa wawancara Killing Me Inside doang, itu juga saat mereka latihan jam 10 malam. Hadeeeh lama bener yak. 
Ya sudah, kami iyakan saja. Karena udah nanggung nunggu lama. Kita menuju studio band mereka. Diperjalanan ada hal yang mengagetkan. Saya dan temen saya terjatuh dari motor. adik kelas yang membawa motor itu tangannya keseleo tapi Alhamdulillah masih bisa melanjutkan aksi kita. Saya sendiri yang duduk dibelakang tidak apa-apa. jadi kita lanjutkan menuju studio killing me inside. sesampai disana ternyata kita disuruh nunggu lagi sampai mereka habis latihan. Eeeerrrrrgghhh, Nunggu lagi, nunggu dan nunggu. Tapi tak apalah. Sabar Bro, nanggung soalnya. Mereka-pun selesai latihan jam 12 malam. Akhirnya kita dapat mewawancarai mereka. Tapi Onad sang vocalist main pulang-pulang aja. Huft, ga ngehargain banget kita ini. Tapi untungnya Guitaristnya Sapat dan Drummernya Welcome dengan kita. jadi akhirnya sukses juga wawancara mereka dengan masih berpakaina putih abu-abu karena dari pulang sekolah langsung ke tempat. Itulah pengalaman pas berjuang untuk majalah sekolah.
Satu lagi pengalaman ketika mading 3 dimensi kami menang juara 3 se-jakarta yang diadakan di Universitas Negeri Jakarta. Waktu itu saya sudah kelas tiga, jadi adik-adik baru yang paling banyak bekerja dengan dibantu kami kelas tiga. Pada saat itu kelas dua menjadi lost generation.  Jadi hanya kelas tiga dan kelas satu. Perjuangan menuju UNJ juga riiiwweeeeh bangeeeet. Mulai dari kita di-PHP-in sama guru yang katanya mau anterin, eh ternyata ga jadi. Dan akhirnya kita nyarter angkot dengan patungan uang kami. Sekolah ga tau kenapa ogah nganterin, padahal kita bawa nama sekolah. 
Tapi akhirnya madding 3D kami menang. Walaupun juara tiga. Tapi uang yang didapet juga lumayan. Dan juga udah lama kami ga dapet juara. Jadi menjadi awal bagus untuk adik-adik kelas satu pada saat itu. Caaayoooo.
Demikianlah cerita saya tentang salah satu ekskul saya, yaitu astek atau bahasa umumnya jurnalistik siswa. Thanks udah dibaca ya.
  
    

0 komentar:

Poskan Komentar