Rabu, 08 Januari 2014

Aku, Pak Boediono dan Neolib

Hari itu tanggal 8 Juni 2013, Saya bersama-sama teman mahasiswa penerima bidik misi mendatangi acara bersama boediono di SMAN 1 Padang. Saya sampai di SMAN 1 jam 8 pagi. Sangat ketat penjagaan pada saat itu. Polisi dan paspampres berada dimana-mana sekitar gedung SMAN 1. Ketika kami masik seluruh hal diperiksa bahkan kami pun dilarang membawa tas. Begitu takutnya penjabat satu ini di tembak atau hal lainnya.
Saya pun tiba di pintu ruangan. Lagi dan lagi pemeriksaan secara ketat di lakukan. Saya pun tidak boleh masuk karena menggunakan celana katun, bukan celana dasar. Penjaga itu mengatakan “harus Formal de”. Lalu saya balas “bapak, formalnya mahasiswa ya kaya gini pak”.  Dengan beberapa teknik lobby akhirnya saya dapat masuk.
Waktu pun berlalu detik demi detik. Para penjabat itu tiba sangat lama. Dengan bincang-bincang dengan kawan di sebelah kanan dan kiri. Banyak hal yang dibicarakan. Setelah sekian lama kami menunggu akhirnya tiba juga. Rombongan pak wapres tiba. Ternyata tidak hanya pak wapres yang terlihat disana. Terlihat juga yaitu pak mendagri yaitu pak Gamawan Fauzi, lalu pak menpora yaitu pak Roy Suryo, pak Musliar Kasim sebagai wamen mendikbud. Pak Irwan Prayitno dan Fauzi Bahar juga ikut meramaikan rombongan pak wapres.
Acara di buka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pak gubernur memberi sambutan dan ucapan selamat datang. Lalu pak boediono pun bicara. Beliau menyampaikan tentang pendidikan dan karakter. Pak Boedi memberi semangat kepada siswa dan mahasiswa serta pendidik yang ada dalam ruangan tersebut. Setelah begitu banyak hal yg disampaikan wapres ia pun menyelesaikan kata-katanya.
Sesi diskusi dimulai, saya menunjuk tangan dan akhirnya Pak Irwan memilih saya untuk menjadi penanya pertama. Saya maju kedepan dan mulai betanya. Saya mengatakan bahwa pak Boediono juga seorang ekonom. Lalu saya menanyakan apa pandangan beliau tentang Neoliberal dan tentang birokrat yang menjual aset Negara.
                Pak boediono mulai menjawab, iya mengawali kata-katanya dengan berkata “Azmul ya?” “Anda fakultas ekonomi ya” “Anda bagus sebagai mahasiswa fakultas ekonomi di universitas yang luar biasa yang setara dengan kampus-kampus di jawa.” “anda bagus sudah mempelajari madzab-madzab seperti neoliberal. Tapi ada jangan tenggelam dengan hal abstrak seperti itu.” Lalu beliau melanjutkan dengan membela neolib hingga audiens sedikit menyukai neoliberal.
                Dia mengucapkan apa salahnya kita bekerja sama dengan asing. Dan banyak hal lagi yang beliau sampaikan tentang positifnya bekerja sama dengan asing. Saya juga setuju kalo bekerja sama dengan asing tapi bapak asing tidak hanya bekerja sama namun juga memimpin dan memerintah kita. Padahal itu adalah aset kita. Kita bagaikan tamu di rumah sendiri. Dan pembagian keuntungannya juga ga adil. Contohnya di Freeport saja Indonesia cuma dapat tidak lebih dari 3%. Mau di bawa kemana bangsa ini kalau pejabatnya aja kayak gitu.
                Setelah  pertemuan ini saya menyimpulkan dalam waktu dekat ini, khususnya pada zaman SBY-Boedi Indonesia tidak akan mandiri. Lalu nasionalisasi sektor strategis negeri ini hanyalah fatamorgana di gurun nan panas. Hal ini karena penjabat-penjabat tingginya hanyala penganut neolibralisme yang akut. Jadi warga Indonesia, mari pilih pemimpin yang nasionalisasikan SDA Indonesia.
                Oh iya. Pertemuan ini juga diliput oleh berbagai website seperti Republika.com, Antara.com dan lain-lain. Dapat dilihat di alamat berikut.
http://www.shnews.co/detile-20564-wapres-tak-ada-aset-yang-dijual-ke-asing.html


0 komentar:

Poskan Komentar