Sabtu, 24 Mei 2014

Saat Fatamorgana Dirindukan

Dalam kehampaan tanpa tepi. Ku buka mata ini. Dan mulai terjaga ketika kegelapan masih memeluk bumi. 
Tanpa sadar diri ini tak berdaya melihat rintihan dunia. Terpuruk dalam aniaya kelam. Tersesak kebimbangan. Isak tangis berirama dengan bau ketamakan. kedengkian menjarah asa. 
Satu kata pun tak dapat ku mengerti yang dialami semesta. Hamparan luka menemani manusia lemah. Keadilan berdarah-darah tersayat kebohongan. Rasa tolong-menolong berguguran. Meronta-ronta tergerus zaman.
Lalu kupejamkan mata. Tersautlah bisikan. Bisikan yang membawa kedunia fatamorgana. Dimana embun pagi menyimpul kedamaian.Dimana belaian angin menyejukkan jiwa. Membasuh perih yang membekas.
Kulihat disana keramahan mengalir lembut. Membasahi nurani yang dulu kering. Menumbuhkan asa yang dulu rapuh.
Beribu kata tak sanggup menjelaskan keindahan ini. Bahkan aku tak dapat meraba betapa besar rindu yang membuncah. Betapa nikmat jiwa yang bermanja-manja dalam ketulusan. Tak ada lagi keangkuhan, tak ada lagi kerakusan.
Namun itu hanya fatamorgana. Saat ku terjaga kembali. Keyakinan berdiriku tergerogoti kembali oleh keraguan. Harapku terkubur dalam kenyataan.
Inilah bumiku,kenyataan memaksa sukma suci tak terbangun. Melempar kebaikan dalam keterpurukan. Hanya untaian do'a disandarkan kepada Sang Maha Pemberi. Agar fatamorgana itu terwujud. Agar mimpi indah itu tak hanya berbunga dalam lelapnya diri.

0 komentar:

Poskan Komentar