Selasa, 22 Juli 2014

Gelora Pemuda Menginspirasi Indonesia


 google pic
Indonesia, Sang Maha Pencipta menganugrahi negeri ini dengan keindahan. Beribu-ribu pulau benghiasi lautan. Melukiskan maha karya indah yang tergores dalam kanvas dibumi ini. Indah bukan? Namun kulihat negeri ini, begitu pelik terasa. Air mata ibu pertiwi berceceran melihat begitu banyaknya masalah dalam negeri ini. Mulai dari korupsi, kemiskinan, pengangguran dan banyak hal lagi.  Mungkin saja ibu pertiwi kini sedang termenung bagai mana masa depan negeri ini.
            Lalu terlintas sebuah kalimat yang tersebut oleh seorang bijak nan gagah. Pemimpin teladan serta dapat menjadi conth pemimpin saat ini. ia berkata “Setiap kali saya menemukan masalah-masalah besar, yang ku panggil adalah anak muda” ya benar, pemuda. Kata-kata ini bukanlah sebuah omong kosong belaka. Karena pemimpin yang berucap ini adalah pemimpin tangguh dan tegas. Ia adalah Umar bin Khatab. Maka pemuda adalah kunci penyelesaian masalah-masalah besar bangsa ini.
            Karya-karya besar negeri ini, tak luputlah dari jerih payah dan kucuran keringat bahkan darah para pemuda. Mulai dari peristiwa yang kini menjadi gerakan kebangkitan nasional yaitu berdirinya Boedie Oetomo. Dilanjutkan semangat pemuda dari berbagai penjuru yang berkumpul menggemakan Sumpah Pemuda pada 28 oktober 1928. Hingga penculikkan Soekarno dan Hatta ke Rengasdenklok untuk terwujudnya kemerdekaan Republik Indonesia. Karya-karya besar lainnya berbuah juga dari tangan-tangan gesit para pemuda. Mencari strategi dan cara-cara baru untuk perubahan Indonesia menjadi lebih baik.
            Inilah buah karya para pemuda yang luar biasa. Entah apa yang terjadi, bila para pemuda tidak melakukan itu semua. Mungkin penjajahan Indonesia akan terjadi lebih lama dan perubahan itu tak akan terjadi seperti saat ini.
            Ibu pertiwi tersenyum, tersenyum melihat pemuda-pemuda dapat berkarya pada saat itu. Namun, hanya saat itu sajalah ibu pertiwi tersenyum. Kini air wajah ibu pertiwi menunjukkan kesedihan. Anak-anak bangsa hanya membicarakan masalah, masalah dan masalah. Begitu banyak masalah yang mewarnai bangsa ini.
            Ketika secercah harapan timbul terhadap para pemuda. Namun pemuda kini mulai terkena berbagai penyakit. Mulai dari apatis, sibuk dengan kesibukan sendiri yang tak berpengaruh untuk sekitar, pergaulan bebas, narkotika serta berbagai virus yang menggerogoti kepedulian pemuda. Kita dapat memulai dari permasalaha narkoba yang dihadapi para penerus bangsa ini. Bila kita melihat data yang disampaikan Badan Narkotika Nasional pada tahun 2009, tindak pidana narkoba sejak 2001 hingga 2008 di Indonesia mencapai 166 ribu dan ternyata 2.134 kasus menimpa remaja dibawah umur. Tidak hanya itu, data BNN tahun 2012 mengungkapkan bahwa setiap hari 50 orang dan setiap tahun 15 ribu orang yang meninggal karena narkoba.
            Begitu mengenaskan fakta-fakta pemuda dan bangsa Indonesia. Itu untuk narkoba, jika kita melihat masalah tentang pergaulan bebas tak kalah menggegerkan kepala jika kita memperhatikannya. Mulai dari seks bebas dan pemerkosaan karena dampak video porno yang tersebar negeri ini. Virus HIV menyebar, penyakit AIDS dimana-mana bahkan pada November 2011 indonesia memiliki 200 ribu lebih penderita AIDS.
            Permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sosial juga dapat kita temukan di negeri kita. Pemuda apatis yang enggan mau tahu dengan keadaan sekitar. Kesibukkan dalam menikmati fasilitas teknologi yang menyibukkan diri sendiri. Tak sempat memikirkan apa yang terjadi disekitar. Tak ingin diganggu dengan masalah orang lain bahkan masalah bangsa ini.
            Gelombang hedonisme juga menyerbu para agent of change negeri ini. Foya-foya ria lebih disukai dari pada bekerja keras menaruh bata-bata bangunan kesejahteraan negeri ini. Bermain di pusat-pusat perbelanjaan lebih menyenangkan dari pada sulit-sulit belajar mencari ilmu unuk mencerdaskan diri. Bila apatisme dan hedonism ini terbangun dan terharmoni dengan baik dinegeri ini. Maka lahirlah besok pemuda-pemuda yang hanya akan menjual negeri ini untuk kesenangan diri sendiri. Tak peduli apa yang terjadi terhadap orang lain.
            Kumpulan-kumpulan pemuda yang enggan bekerja ini akan terbentuklah komentator-komentator handal. Penebar kritik negative tak membangun. Pengkritisi jago bicara, yang menghilangkan asa harapan untuk negeri. Sebuah kata-kata tersusun rapi, mengutuk apa yang terjadi, mencaci para pejuang. Pemuda-pemuda komentator omong kosong inilah yang akan memenuhi negeri kita. terproduksi sangat banyak, menyebabkan stok pemuda seperti ini sangatlah melimpah.
            Fakta seperti inilah yang menambah beban dalam otak ibu pertiwi. Memperlebat tetesan air mata di pipi ia. Namun terlihat dalam remang-remang jalan sunyi. Pemuda-pemuda yang menggali asa untuk Indonesia. Pemuda-pemuda yang berusaha menyeka air mata di pipi ibu pertiwi.
            Mereka adalah pencari ilmu, berusaha mencerdaskan diri. Meraih cahaya ilmu yang bertebaran di bumi. Untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan dunia. Meramu cara- cara luar biasa menyelesaikan masalah.
            Mereka adalah para relawan penggerak. Bergerak tanpa upah, bekerja tanpa lelah, berkarya tanpa batas. Melahirkan inspirasi-inspirasi baru yang mewabah luas menyadarkan bangsa dari himpitan masalah.
            Mereka bagai Muhammad Al-Fatih, belajar tanpa henti, berusaha memantaskan diri. Baik jasmani dan rohani untuk mencapai sebuah cita yang sangat mustahil saat itu.
            Mereka bagai Mush’ab bin Umair, Meninggalkan segala kenikmatan dunia. Untuk mencapai sebuah kenikmatan tak lekang oleh waktu. Sebuah keabadian, dalam amal-amal dahsyat. Menjadi pemuda tampan nan cerdas. Menginspirasi sekitar untuk bekerja dalam segala ridho-Nya.
            Mereka bagai Sukarno, meneriakkan sebuah moralitas dalam bahasa elegan. Membakar semangat orang sekitar untuk  menjemput sebuah keinginan mulai. Berkerja dengan cinta terhadap rakyat. Mengharmonisasikan sebuah semangat baru. Kemerdekaan untuk tanah tercinta.
            Mereka bagai Muhammad Hatta. Meramu langkah-langkah kongkrit dalam membangun sebuah negara. Menggoreskan kata-kata cerdas dalam menggambarkan sebuah cita bangsa. Menemukan sistem untuk kepentingan rakyat.
            Mereka adalah pemuda-pemuda konkrit yang melangkah untuk mengispirasi. Bukan pemuda yang hanya mengkritisi tanpa kerja. Bukan pemuda yang terbuai dalam kenikmatan dunia. Bukan pemuda apatis yang enggan peduli dalam situasi sekitar.
            Inilah pemuda Indonesia itu, mereka walau belum menjadi mayoritas. Namun kerjanya mulai terasa. Langkahnya menciptakan inspirasi baru. Citanya merubah Indonesia dicicil dengan karya-karya kecil namun bermakna besar. Inilah gelora itu, gelora para pemuda untuk perubahan yang terbaik. Menggapai cita indah di dunia dan disisi-Nya.

Azmul Pawzi (10 November 2013)

0 komentar:

Poskan Komentar