Rabu, 16 Desember 2015

Terlahir Menjadi "Orang Dapur"

 
Seorang ustadz bertanya kepada gurunya. Sosok yang senantiasa membimbingnya dan tempat ia terbiasa mendapat nasihat. Kala itu ia meminta pandangan sang guru atas keputusan besar yang akan ia ambil.

Diskusi itu berjalan panjang, permasalahan ini bukanlah hal kecil. Bukan hanya tentang individu, namun merembes hingga negara dan tentunya akan menentukan gerak dakwah kedepannya. Hingga sebuah pertanyaan hadir, pertanyaan yang jawabannya akan menjawab semua jawaban. Guru itu bertanya :

“Suatu saat antum mungkin akan jadi pemimpin nasional di masa yang akan datang, apa ini tidak akan jadi masalah?”

Ustadz itu terdiam,  cukup lama. Namun akhirnya dengan mantap ia menjawab.

“Saya tahu diri saya ustad, saya lebih tepat untuk kerja-kerja dapur ketimbang jadi pejabat publik.”

Masya Allah.

Saya mendapat banyak pembelajaran dari cerita ini. Sebuah kisah yang menjadi bahan renungan saya sejak pertama kali membaca kisahnya. Bukan, hal ini bukan tentang jabatan publiknya yang menjadi sorotan. Hal ini tentang memahami diri.

Saya pengagum ustad tersebut. Tulisan, pola fikir, cara bicara dan berbagai gestur kerap kali saya ambil menjadi referensi dan contoh. Dan saya makin terkagum dengan jawaban yang ia berikan. Ia memilih menjadi orang dapur dan menjalani pilihan besar dalam hidupnya itu.  Walau pilihan itu kemungkinan akan berlawanan dengan kesempatan menjadi penjabat publik yang sudah ada di depan matanya dan banyak orang melihat ia mampu mengemban jabatan itu.   

Ia memilih menjadi orang dapur, karena ia memang menganggap jabatan tidak serta merta menambah kontribusi. Namun jika kita memiliki kapasitas besar, maka kontribusi kita akan gemilang walau tanpa jabatan.

Kisah ini menjadi renungan saya, membawanya dalam kontemplasi diri. Menghadirkannya kala diri ini menyepi.

Dalam renungan itu, saya menghadirkan diri saya sejak pertama menjalani organisasi sejak SMP, hingga menapaki tahun  4 kuliah ini.

Hampir setiap pilihan amanah organisasi saya cenderung mengambil posisi orang “dapur”. Memilih mengoprasikan organisasi, mengolah manusia, memasaknya, dan melihat mereka berkembang.

Ketika SMA, kala teman-teman mengejar prestasi dalam dunia persilatan, saya memilih membuka tempat latihan silat baru untuk anak-anak SMP. Walau pada akhirnya prestasi silat saya tidak secemerlang teman-teman lainnya. Hanya menyabet perunggu di tingkat jabodetabek dan jakarta barat. Namun mata saya berbinar cerah kala melihat adik-adik SMP yang saya latih mendapat prestasi di tingkat daerah.

Di eksul jurnalis siswa-pun, ketika kelas tiga dan alumni. Saya mencoba kembali kepada adik-adik yang menjalani amanah, menemani, memberi mereka semangat dan tempat bertanya. Dan senang kala mereka berprestasi. Begitu juga di ROHIS, menjadi ikhwan di angkatan saya yang suka kembali ke agenda ROHIS setelah lulus.

Masa SMA berlalu, dan kala kuliah semua tergambar jelas. Amanah Pengembangan Sumber Daya Manusia maupun kaderisasi menempa saya untuk menjadi “orang dapur”. Memimpin bidang PSDM saat di AMA Unand, kepala bidang kaderisasi di Lembaga Dakwah Fakultas, penanggung jawab mentoring fakultas, sampai di BEM dan organisasi kepemudaan-pun saya pernah di amanahkan dalam bidang sumber daya manusia.

Tidak berhenti disitu saja, hingga saat ini berbagai amanah yang sangat berkaitan dalam “dapur” organisasi dan gerakan serta berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan manusia masih saya jalani. Seperti membina ratusan mahasiwa baru di Asrama Mahasiswa Unand serta dalam satu semester mengajar sebagai asisten dosen.

Pada awalnya saya tak memahami hal ini. Hingga kurang lebih satu tahun lalu membaca kisah di atas, saya mencoba berkontemplasi, melihat apa dalam diri saya secara jernih. Dan menemukan jawaban bahwa dalam pandangan saya, saya lebih pas menjadi "orang dapur".  Mengoperasikan dan mengolah keberlanjutan gerakan dari belakang.

Meminjam istilah sosok yang saya mereguk banyak inspirasi juga, yaitu jadilah “Pahlawan di Jalan Sunyi”. Karena kontribusi tak selalu dibayar dengan sorak sorai tepuk tangan dan decak kagum. Kadang ia cemerlang dalam kesunyian. Kadang ia berkilau tanpa ada orang yang silau memandangnya.

Maka biarkan diri ini hanya menjadi “orang dapur”. Karena dalam besarnya gejolak diri dan ambisi yang ada. Ternyata saya lebih suka menjadi lelaki dalam sepi.
#MelangkahMenginspirasi



gambar disini

Minggu, 13 Desember 2015

Ada yang Memberikan itu Semua Untukmu

Ada yang tak terbalas : kasih.
Ada yang tercurahkan : sayang
Ada yang tak mampu terganti : pengorbanan
Ada yang membimbing : nasihat
Ada yang senantiasa menyelimuti : cinta
Ada yang terujar tiada henti : do'a

Ada yang memberikan itu semua untukmu : ibu

- Azmul Pawzi -


gambar disini

Rabu, 18 November 2015

Izinkan Aku

Izinkan aku menggoreskannya
Tentang  rasa yang mewakili segala perasaan
Tentang hati yang memenuhi segala relung hati
Tentang cinta yang memayungi segala cinta

Izinkan aku menghimpunnya
Segala semangat yang membakar berbagai semangat
Segala tekad yang mengokohkan tekad para pejuang
Segala spirit yang mencangkup segala spirit kalian

Izinkan aku menyaksikanya
Setiap suara yang lebih merdu dari nyanyian yang pernah bersenandung
Setiap kecantikkan yang lebih indah dari kecantikan yang pernah ada
Setiap keharuman yang lebih wangi dari wewangian yang pernah tercium

Izinkan aku merenunginya
Di keheningan yang lebih senyap dari keheningan gua tak berpenghuni
Di kesepian yang tiada orang pernah berlalu lalang di dalamnya
Di kegelapan yang lebih kelam dari malam tak berbulan

Izinkan aku memeluknya
Semua kehangatan yang menentramkan jiwa yang dingin
Semua kerinduan yang tak terbalas selama ini
Semua kehilangan yang tak kunjung bersua

Izinkan aku menyentuhnya.
Secuil kelembutan yang tiada pernah teraba siapapun
Seuntai kesejukkan yang mendinginkan setiap insan

Izinkan aku untuk menulisnya.
Izinkan.

Rabu, 11 November 2015

Tips Efektif Bikin Paspor, Biar Ngga Bolak-Balik Ke Kantor Imigrasi Kayak Gue

Pada dasarnya ini adalah pengalaman gue yang merasa ngga efektif banget bikin paspor karena suatu dan lain hal. Padahal sebenernya ngurusnya itu sangat gampang dan Cuma butuh 2 kali dateng aja ke Kantor Imigrasi.Wawancara serta foto dan ngambil paspor yang udah jadi.

Gue akan menjelaskan dari awal pembuatan hingga akhir. Tulisan ini untuk teman-teman yang belum tau dan ingin tau. Ya kalo udah tau, cukup share aja. Siapa tau masih banyak yang belum tau. Hehe.

Sebenarnya gue sudah dari tahun satu ingin buat paspor, namun terkadang hidup keras bro,  gue hidup di padang dengan dana bidikmisi. 600 ribu perbulan untuk memenuhi kehidupan sebagai mahasiswa di kota padang yang ngga ada warteg, jadi makanannya masakan padang semua (Mahal bro). Nah dengan uang segitu, juga ada sih penambahan uang dengan ilmu pandai-pandai gue yang bisa ngehasilin uang. Tapi tetep aja, mengalokasikan uang 360 ribu untuk buat paspor bisa buat gue ga makan ber minggu-minggu dan ngga beli buku berbulan-bulan. :D

Di tahun akhir mahasiswa ini Alhamdulillah udah punya penghasilan, sehingga mau buat paspor di semester 7 ini. Tapi sebelum beli paspor, gue beli dulu buku dari Inspira Book (web: inspirabook.com), yang judulnya “Jurus Kuliah Ke Luar Negeri” sama “Toefl Killer”. Eh Alhamdulillah, gue dapet undian dan memenangkan dana untuk buat paspor. Alhamdulillah, Terima Kasih Inspira Book sudah ngasih uang sehingga jadilah paspor gue. *Salemin orangnya

Oke sekarang masuk intinya. Bikin paspor itu gampang sob. Apalagi kalo lu bikin dengan online. Its simple and easy. Tapi entah kenapa kok gue jadi ribet. Karena banyak mitos buat paspor yang gue denger jadi membuat gue terhambat (Caelah mitos). Jadi tulisan ini gue buat biar temen-temen yang ngga tau menau info buat paspor bisa mudah mendapat info yang valid tanpa simpang siur, apalagi mitos.

First step, silahkan buka www.imigrasi.go.id. Liat di menubar nya, klik Layanan Publik, terus klik Layanan Paspor Online.

Nah, nanti kan kebuka tu halaman baru. Silahkan klik Pra Permohonan Personal dan ikuti arahannya. Selanjutnya kalian akan input data. Ya isi aja, gampang kok, udah jelas semuanya disitu.

Setelah kamu ngisi semua itu, kamu bakalan dapet email dari kantor imigrasi dan  sampai ke tahap pembayaran. Nah bayar deh ke Bank BNI bawa file dari email tersebut yang sudah di print ke bank. Biayanya 355 ribu buat paspornya, 5 ribu buat banknya. Terus konfirmasi pembayaran di alamat yang ada di email kamu itu. Dan selesai sudah, selamat anda sudah selesai tahap pendaftaran online. Tinggal verifikasi berkas dan wawancara ke kantor imigrasi terdekat yang sudah kamu buat di input data itu.

Sebelum ke imigrasi siapkan berkas-berkas yang harus teman-teman bawa. Kartu Keluarga, KTP, sama Akta atau ijazah. Bawa yang asli dan fotocopy. Sserta pastika informasi di tiga dokumen itu ngga ada yang beda, seperti nama, tempat dan tanggal lahir, dan lain-lain deh, jangan ada yang beda. Kalo beda bakalan ribet kalian. Tentu jangan lupa bawa bukti pembayaran dari bank.

Sampai sini bakalan lancar-lancar saja. Nah pas pergi ke imigrasi, gue dapet mitos kalo datang ke imigrasi harus subuh-subuh hari. Waktu itu hari jum’at, gue agak menghiraukan mitos itu. Dan datang di imigrasi jam 7.38. Bertanyalah gue kepada seorang bapak yang sibuk nulis-nulis sesuatu. “Maaf pak, alurnya gimana nih pak?”. “Adek udah ambil antrian?” “Belum pak”.

“Yah ngga bisa dek, coba adek baca di depan. Itu ambil nomor antrian dari jam 5 sampai jam 7.30.” “eh beneran pak? Termasuk yang online?” “iya, orang jam 5 aja udah banyak yang nganti ambil nonor antrian. Ngga percaya liat aja di depan”. (bahasa disini telah diubah dengan bahasa saya, kejadian aslinya ngga langsung-langsung kayak gini)

Gue keluar dan liat kedepan. Ternyata beneran ada, gede lagi tulisannya. Kuota 70 pemohon umum dan 20 pemohon online. Hoho. Gue tanya ke satpam, “ini nomor antriannya buat yang online ngga ada lagi pak?” Dan satpam itu jawab ngga ada lagi dan nyaranin balik hari senin. Dan gue pun pulang dan balik hari selasa, soalnya senin ada kuliah pagi.

Sampailah gue selasa disana jam 5.41, dimana pas selese subuh dengan adek-adek asrama langsung capcus ke imigrasi tanpa ikut agenda subuh seperti biasa. Pas dateng di situ, ngeliat satpam (beda lagi satpamnya) yang udah di kelilingi orang. Saya minta deh. “pak minta antrian yang online dong”. “Online pak? yang online datang aja nanti jam 8, ngga pake nomor antrian.”

Ondeh Mandeh, gue langsung inget bapak dan satpam yang ngasih info. Positif thinking aja lagi,  mungkin bapaknya ngga tau dan satpamnya masih baru tau masih training. :D. Jadi info buat temen-temen Kalo udah daftar online tinggal dateng aja jam 8 ke imigrasi ada tempat khusus naro berkas pemohon online. Ngga usah dateng subuh-subuh kayak mitos yang ada. Hoho.

Menunggulah gue di masjid sampai jam 7.55, datang ke imigrasi. Naro berkas di tempat online. Isi surat pernyataan yang bisa di beli di koperasi kantor imigrasi, nunggu giliran di panggil, dan pas di panggil di wawancara. sudah, lanjut ngantri ambil foto dan selesai. Waktu yang di habiskan ngga sampai satu jam. Jam 8.50 saya sudah pulang.

Nunggu 4 hari kerja dan ambil deh, jangan lupa bawa bukti pembayaran ketika pengambilan paspor yang sudah jadi. Selesai deh. Paspor sudah di tangan. Jadi ngga ribet kok, ngga perlu nunggu berjam-jam. Ngga perlu datang subuh hari. Kalo kamu udah daftar online, ngga sampai waktu satu jam kamu di kantor imigrasi.

Selamat buat paspor dan selamat ke luar negeri kawan-kawan.

Minggu, 01 November 2015

Kecenderungan Mencinta

Kecenderungan mencinta. Ya, semua orang memiliki sesuatu hal yang membuat mereka tertarik, terkesan, terkagum hingga jatuh cinta.  Kadang pola ketertarikkan itu ada yang rumit, dan ada pula yang sederhana.  Penjelasan disini bukan secara ilmiah saya lakukan. Hanya kesimpulan yang saya ambil dari sekian lama mengamati. 

Alhamdulillah, sejak SMP hingga sekarang saya sering dipercaya untuk menjadi tempat curhat. Baik laki-laki maupun perempuan, tomboy maupun kalem, keras atau lembut, dan berbagai karakterisitik teman-teman saya. Itu membuat saya sedikit memahami berbagai karakter manusia dan kecenderungan cinta dan benci mereka.

Saya mengamati berbagai hal, terutama akan ketertarikkan hati mereka. Berulang kali saya mendengar, berulang kali saya memberi solusi. Rata-rata pola ketertarikkan mereka hampir sama. Yaitu mereka tertarik pada seseorang yang memiliki banyak kesamaan dengannya. Walau tidak semua, namun ini saya temukan di hampir seluruh teman yang menceritakan isi hatinya kepada saya.

Saya mencoba merenung. Juga memperhatikan diri. Ternyata saya juga seperti itu. Saya akan tertarik kepada seseorang yang memiliki kesamaan lebih banyak dengan diri saja. Sebut saja dalam hal sastra. Saya termasuk penikmat sastra, membaca berbagai buku, mencoba membuat-buat puisi dan menulis berbagai cerita. Dan kala ada seseorang yang memiliki ketertarikkan yang saya temui. Maka "klik" sudah. Pembicaraan akan panjang.

Itu juga saya alami dalam berbagai kesamaan lainnya. Pola fikir, hobi, kecenderungan bergerak, ideologi ,  kebiasaan, dan berbagai hal lainnya. Hingga saya akan mudah tertarik dengan seseorang bila kesamaan itu ada.

Ini tidak hanya dalam hubungan antar lawan jenis. Namun dalam hal pertemanan juga seperti itu. Kita akan berteman akrab, bahkan menjadi sahabat dengan seseorang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita.

Maka wajar sudah, ada orang bijak mengatakan "jodohmu adalah cerminan dirimu". Dan juga dalam Al-qur'an juga tertulis di surat an-nur ayat 26 bahwa lelaki baik hanya untuk wanita baik, dan lelaki keji hanya untuk wanita keji. Bukankah begitu firman-Nya?

Jelas sudah, setiap insan memiliki kecendrungan masing-masing. Dan parameter terkuat mereka kadang terdapat pada diri mereka masing-masing. 
Jadi, sudahkah kau tentukan parameter dirimu? Apakah sesuai dengan yang di inginkan Allah atau tidak?

#MelangkahMenginspirasi

Itu Karena Cinta Akh


Hari ini aku habiskan hari di asrama. Bukan karena tidak ada agenda, namun keadaan dari tubuh ini yang tidak begitu bersahabat. Kepala yang berat, badan tak bertenaga di tambah suhu tubuh yang tinggi. Tidak enak badan? Mungkin itu istilah yang mungkin bisa menggambarkan keadaan diri. Hingga saya memilih untuk beristirahat hari ini di kamar.

Sorenya, ba'da shalat ashar aku memilih bersantai ria di sebelah kamar, di temani segelas susu putih hangat, sebungkus biskuit dan tentunya buku yang siap untuk di baca.

Sejam berlalu, gelas berisi susu yang kupersiapkan di awal sudah habis, dan kondisi biskuit-pun juga kurang dari setengah. Berlembar-lembar halaman juga sudah di lahap. Seseorang mengetuk kamar ku, menyadari aku tak berada di kamar. Ia melihat sekitar, dan menyadari diri ini berada di sebelah. Setelah ku perhatikan ternyata itu adalah Dedek, pembina asrama sebelah.

Dedek pun duduk di hadapanku, mengambil biskuit yang ku tawarkan dan membicarakan sesuatu. Kami terlibat berbagai tema obrolan,  termasuk keadaan aku yang kurang sehat. Mulut ini pun mulai menceritakan akan keadaan diri yang merasa waktu yang amat sempit, amanah yang semakin berat, dan fikiran yang semakin sesak. Ia mendengar takzim.

"Akh, berulang kali ana ingin menghentikan, dan mengatakan masa bodo. Tapi entah mengapa tetap aja ana kerjakan semuanya semaksimal mungkin." Ungkapku.

"Itu karena cinta akh" Jawabnya singkat.

Aku pun tertegun, singkat memang menjawabnya. Bahkan terkesan menjawab dengan asal. Namun entah mengapa jawaban itu langsung melintas di fikiranku dengan dalam.

Itulah cinta, kala kita telah mencintai sesuatu. Seletih apapun tubuh kita memenuhi seruannya. Berulang kali diri merasa ingin meninggalkannya. Namun tetap saja, cinta akan tetap memanggilmu untuk menemuinya. Mengerjakan apapun ia mau. Walau keringat bercucuran, air mata menetes, hingga tubuh tersungkur. Ia akan tetap memaksamu mengerjakannya.

Dan dengan anehnya, engkau akan senang hati mengerjakannya. Merasa tidak ada hal yang berat ketika menjalaninya. Walau kadang sesekali kau merasa ingin menyerah, meninggalkan ia. Namun ketika cinta itu menghimbaumu kembali. Dengan seketika kau melupakan keletihanmu, tak menghiraukan kata-katamu yang ingin meninggalkannya. Seruannya bagaikan sihir yang menghipnotis diri hingga kau akan paripurna berjuang untuknya.

Lalu sebuah pertanyaaan hadir. Bagaimana bila cinta itu mengalir ke sesuatu yang dibenci Allah? Maka kau akan senang hati melakukan kemaksiatan. Menambah pundi-pundi dosamu. Berbuat berbagai keburukan dengan rasa tak bersalah. Bahkan kesalahan yang diperbuat itu menjadi sebuah hal yang benar kau rasakan. Hingga kau tak memedulikan orang lain yang menyampaikan kebenaran yang hakiki kepadamu.

Jadi, arahkanlah cintamu kepada hal yang dicintai-Nya. Agar setiap kerja-kerja cintamu menjadi sesuatu hal yang menambah hitungan amal baikmu.

Maka berhati-hatilah dalam mencinta.

#MelangkahMenginspirasi



Kamis, 29 Oktober 2015

Hidupmu Tertekan? Ini Rumus Menghadapinya

Kepalamu berat, fikiranmu berputar-putar. Kau terasa tertekan dari berbagai arah. Sangat banyak hal yang menuntutmu sehingga kau bergitu tertekan. Pernah kah kau merasakannya? Rasa yang begitu pilu di hati, menyesakkan di dada. Ia bagai dinding-dinding yang bergerak menuju diri dari berbagai arah. Menekan tubuh yang ringkih. Hingga tubuh ini terhimpit dari berbagai masalah yang melanda.

Ah, sudahlah. Pernah merasakan itu teman-teman? keadaan seperti diatas? Saya yakin setiap manusia pernah ditekan dari segi apapun. Baik itu pekerjaan, pergaulan dan sebagai lainnya. Tertekan karena pekerjaan, amanah organisasi , dan dunia profesional adalah hal wajar. Kemampuan berfikir dalam tekanan menjadi hal penting untuk di miliki seorang profesional.

Namun yang kita bahas kali ini bukan tertekan karena itu, namun tentang tertekan karena hal sepele. Yaitu tertekan karena lifestyle. Walaupun solusi yang saya tulis bisa digunakan untuk menghadapi apapun latar belakang dari rasa tertekan kita. :D

Nah, di abad sekarang, mengikuti style modern menjadi sebuah gaya hidup yang tak bisa dipungkiri. Ketika merk sebuah tas menjadi sebuah trend. Maka kaum hawa akan mulai berbondong-bondong membelinya. Ketika style rambut yang digunakan artis-artis hollywood dan tanah air berubah. Maka para insan modern ini ikut merubahnya.

Begitu juga ketika mode hijab 'lilit-lilit' ala artis-artis yang sekarang banyak menggunakannya. Di temani pakaian yang ketat-ketat. Para muslimah juga "latah" ngikutin berhijab ala artis berbaju ketat itu. 

Pokoknya sekarang zaman ngikutin trend deh. Bahkan tidak cuma untuk perempuan, para lelaki pun juga banyak yang mengikuti. Mereka mulai bangga menjadi lelaki metropolitan. Ketika David Beckham ganti gaya rambut. Banyak kaum adam yang mengikutinya. mengikuti trend yang ada. Ketika lelaki zaman sekarang harus bermuka bersih layaknya boyband korea. Mereka akan kalang kabut hanya karena sebuah jerawat tumbuh di wajahnya.

Hingga pada akhirnya, banyak manusia yang stress hingga mau berbuat hal kriminal seperti mencuri, untuk bisa mengikuti trend ini. Di kalangan mahasiswi, ada juga yang ingin mendapat banyak kemewahan hingga menghalalkan segala cara agar bisa mengikuti trend. Sampe ada yang menjual diri mereka (baca: ayam kampus). Dan juga para koruptor di Indonesia, melakukan tindak korupsi karena juga ingin mengikuti gaya hidup mewah. Update gaya hidup modern ini-lah yang kini melanda anak bangsa.

Tertekan karena gaya hidup ini menjadi masalah tersendiri. So, apa yang harus kita lakukan?

Di ilmu fisika terdapat rumus P = F/A. Tekanan sama dengan gaya di bagi dengan luas permukaan. Mungkin kita bisa mengambil dari rumus ini. Anggap rasa tertekan yang melanda hati kita adalah P. Maka besar kecilnya rasa tertekan itu tergantung besar F (Gaya) dan A (Luas permukaan hati).

Bila semakin besar gaya-gaya'an kita. Dan semakin kecil hati kita. Maka perasaan tertekan akan senantiasa menyerang diri. Sebaliknya, bila semakin kecil gaya-gaya'an kita. Dan semakin lapang hati dan dada kita. Maka hidup tertekan itu sangat kecil.

Jadi, jangan banyak gaya deh buat hidup kalian. Syukuri aja apa yang ada. Yang tampangnya biasa aja, syukuri. Yang kantongnya biasa aja, syukuri. Yang style bajunya biasa aja, syukuri. Jangan sok-sok kegayaan ngikuti trend para artis. Kepala pusing tujuh keliling karena sebuah jerawat. Mata jelalatan liat sesuatu yang bermerk. Hingga stress gara-gara semua yang kita inginkan tak tercapai. Hadeh, pusing kepala berbie ngeliat kelakuan yang kayak gini. 

Lalu, lapangkan hati. Gimana caranya? Allah udah kasih jawaban. Inget ayat ini? alaa bidzikri allaahi tathma-innu alquluubu ?  Bener, ini potongan surat Ar-Ra'd ayat 28 yang artinya "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."

Nah, kalo hidup mau tenang dari berbagai tekanan dan stres. Nih kuncinya, Inget Allah. Dzikir terus. Mau makan inget Allah, mau tidur inget Allah, mau kuliah inget Allah, mau keluar rumah inget Allah. Pokoknya semua kegiatan kita inget Allah deh. Pasti hati tenang dan nggak tertekan lagi. 

Udah tau kan rumusnya? Perkecil gaya-gaya'an kamu. Lapangkan hati kamu dengan dzikrullah. P = F/A.

Semoga bermanfaat.
#MelangkahMenginspirasi

Kamis, 22 Oktober 2015

Ada Apa Dengan Kecewa?


“Dek, kenapa jilbabnya jadi pendek gitu?” , "Kecewa sama jama’ah kak"
“Bro, kok sekarang jadi pacaran?” "Gue kecewa sob sama orang-orang  di dakwah ini."
“Dek, kok sekarang jadi jarang ikut ngaji? Terus sekarang mau-mau aja di pegang sama lawan jenisnya?” "Kecewa bang sama senior-senior di lembaga dakwah."

Pernah denger kayak gitu? 
Mungkin teman-teman banyak yang mendengar kasus seperti diatas. Alasan yang sering digunakan mereka yang pernah aktif di dakwah kampus. Mereka meninggalkan lembaga dakwah, mereka meninggalkan jama’ah. Hanya dengan satu alasan, kecewa.

Mereka kecewa, hingga dengan kekecewaan itu mereka meninggalkan dakwah di ikuti dengan meninggalkan kebiasaan mereka saat bersama-sama memperbaiki diri di dakwah kampus.  Dan ini terjadi di mayoritas yang saya lihat.

Padahal dulu mereka memiliki kebiasaan tilawah yang banyak, amalan harian yang meningkat, dan semangat menasihati membara. Untuk yang wanita mereka menutup aurat sesuai syari’at,  jilbabnya terjulur panjang hingga pinggang, bahkan di sempurnakan dengan manset dan kaos kaki.  Dulu mereka yang lelaki begitu baik menjaga hati dan pandangan. Menjalankan amanah dakwah tanpa merasa letih.

Namun, atas nama kecewa. Mereka tinggalkan kebiasaan itu semua. Ada yang menghilangkan kebiasaan itu sedikit, ada juga yang banyak. bahkan ada yang menjadi penentang dakwah yang menjelek-jelekkan gerakkan dakwah.

Satu hal yang sebenarnya membingungkan saya, jika iya mereka kecewa dengan gerakkan dakwah. Maka seharusnya ia menjalankan dakwah yang lebih baik sistemnya. Lebih rapi langkahnya, lebih tersusun gerak-geriknya. Dan tentunya lebih sesuai Syari’at-Nya. Bukan malah meninggalkan perintah-perintah-Nya.

Memang tak semua yang meninggalkan dakwah kampus seperti itu, namun mayoritas yang saya lihat seperti itu. Mereka yang kecewa untuk yang laki-laki bakalan ujung-ujungnya kecewe (ke cewek/ pacaran). Kecewa berujung kecewe. Setidaknya hijab antar laki-laki dan wanita tak lagi hal yang penting. Bersentuhan menjadi hal yang biasa.

Atau yang perempuan, hijabnya semakin menjauhi syariat, mansetnya tak digunakan. Mulai berdandan berlebihan, bahkan sampai ada yang menggunakan pakaian yang ketat.

Maka lihat betapa ruginya mereka yang dulu pernah taat namun kini ingkar. Ini sebagai pengingat aku, kamu dan juga pembaca semua. Karena kerugian besar lah ketika hidayah telah memeluk kita, namun kita melepaskan dan meninggalkannya.

Semoga kita di jauhkan dari rasa kecewa yang menjauhkan kita dari Allah. Dan senantiasa di beri keistiqomahan.
#MelangkahMenginpirasi

Selasa, 20 Oktober 2015

Itulah Mengapa Allah Memilihmu Berada di Jalan Dakwah

Mungkin dirimu tak sefaqih ulama
Memiliki berbagai ilmu tentang agama
Tapi dengan adanya engkau di jalan dakwah
Membuat dirimu semangat menimba ilmu syariah

Mungkin  amalmu tak sebanyak mereka para ahli ibadah
Memenuhi setiap satuan waktu untuk mendekati-Nya
Namun dengan adanya engkau di jalan dakwah
Membuat dirimu belajar menjadi sosok yang sholeh & sholeha

Andai saja kau tak menemukan jalan dakwah
Mungkin ta’lim dan ceramah agama hal asing yang kau terima
Dan ibadahmu tak sebanyak sebelum kau memperjuangkan agama-Nya
Ah.. Itulah mengapa Allah memilihmu berada di jalan dakwah

Mungkin orang sekitarmu mengejek akan ketaatanmu
Dengan berbagai ungkapannya dengan kata yang menyembilu
Namun dengan adanya kau di jalan ini
Geloramu bertambah karena motivasi teman jama’ah yang mereka beri

Mungkin berbagai kritikan datang kala kau berproses memperbaiki diri
Menunjukkan kesalahanmu yang belum bisa kau perbaiki
Tapi mungkin dengan adanya kau dijalan ini
Kau semakin terpacu untuk memperbaiki kesalahanmu  selama ini

Andai saja kau tak bersama mereka yang memperbaiki diri
Mungkin engkau terpengaruh dengan kata-kata mereka yang dengki
Berhenti untuk berusaha menjalani perintah Sang Maha Pemberi
Ah... Itulah mengapa Allah memilihmu berada di jalan dakwah ini

Mungkin matamu sendu, keringatmu berkucur dan badanmu tersungkur
Terjatuh dalam keletihan menjalani amanah langit yang kau panggul
Namun dengan beradanya kau dijalan ini
Kau tetap bergerak dengan semangat mendapat ridho Ilahi

Mungkin hatimu kecewa, pikiranmu gelisah
Akan keputusan jama’ah yang tak kau kira
Namun dengan beradanya kau dijalan dakwah
Kau belajar akan ke-tsiqohan karena keilmuanmu yang terbatas

Andai saja kau tak bersama jama’ah
Mungkin kau telah tersesat sendirian dalam logika
Rapuh, bahkan lebih rapuh dari keadaanmu dalam jama’ah
Ya, Itulah mengapa Allah memilihmu berada di jalan dakwah

Ketahuilah wahai saudara
Bukan tanpa alasan Allah memilih mu berjuang untuk agama-Nya
Maka carilah alasan mengapa engkau berada dijalan dakwah
Agar engkau lebih bergairah dalam mentarbiyah semesta

Jikalau kau menemui berbagai alasan untuk meninggalkan jama’ah
Maka ingatlah seberapa jauh dakwah merubah dirimu
Seberapa besar Allah meneguhkan kedudukanmu
Bukankah firmannya “jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”?

Maka tetapkanlah dalam hati untuk bertarbiyah agar diri terus terbina
Berjuang bersama menebar cahaya untuk umat manusia
Istiqomahlah wahai sahabat, karena memang jalan dakwah tidaklah mudah
Ia amatlah panjang, hingga tiada ujung yang lain kau temui, kecuali surga-Nya di akhirat

Itulah mengapa Allah memilihmu berada di jalan dakwah

Azmul Pawzi
Terinspirasi dari puisi "Itulah Mengapa Allah Menikahkanmu Dengannya"

Sabtu, 10 Oktober 2015

Kegigihan yang Hilang

Ada yang berbeda.
Entah apa, itu kalimat yang terlintas dikepalaku ketika melihatmu kini.  Engkau berbeda. Setidaknya itu yang kurasakan. Engkau sudah tak seperti dulu. Matamu sendu, senyummu tertahan.

Entah apa yang terjadi kepadamu. Padahal jelas di otakku, kala pertama kali aku melihatmu. Sosok yang tiada henti memberi inspirasi. Matamu tajam, pandanganmu jauh menembus masa depan. Berulang kali telinga ini mendengar cerita cita tinggimu untuk bangsa. Mimpi cerahmu untuk umat. Aku mengingatnya, bahkan hampir tiap kata-kata mu.

Tiada satu-pun unsur keramahan yang tak tergambar darimu. Senyum yang menentramkan. Hanya dengan lengkungan di bibir itu saja, engkau dapat memotivasi banyak orang. Apalagi ketika kau meluapkan berbagai ide-ide dan karya yang akan di realisasikan. Itu sungguh menakjubkan.

Kau sirami lingkunganmu dengan semangat membaramu. Kau hasilkan karya-karya fantastis, kau produksi kinerja-kinerja keren dengan rapi. Kegigihanmu tak terperi. Hingga semua orang terheran dengan dirimu yang tiada letih menginspirasi.

Namun ada yang berbeda, entah hal seperti apa yang meredupkan itu semua. Aku tak paham, namun yang ku tahu itu pasti hal yang berat.  Hingga membuat wajah itu murung. Sungguh aku tak paham. Aku hanya terheran. Bagaimana bisa?

Ku coba perhatikanmu lagi, namun tetap ku tak menemukan jawaban. Hanya sinaran mata yang semakin redup yang ku dapatkan. Dan itu bukanlah yang ku inginkan. Karena itu bukan kamu.

Aku hanya ingin kau kembali, seperti engkau yang dulu. Menjadi inspirator yang gigih berbuat untuk orang lain.

Aku menginginkan itu, dan orang sekitarmu juga. Maka kembalilah. Kembalikan kegigihan yang hilang itu, kembalikan semangat yang redup itu, kembalikanlah. Kembalikanlah.

Kembali seperti engkau yang dulu. Kembalilah.


Kamis, 08 Oktober 2015

Sendiri

Sendiri.
Siapa yang tahan akan kesendirian. Aku yakin, kamu tak menginginkan itu.
Seperti diri ini, yang enggan sendiri.
Aku yakin itu, walau kadang senyummu menyiratkan bahwa kau tak mempersoalkannya.

Aku tak mengerti, Sungguh. Pada dasarnya aku tak mengerti manusia seperti apa yang bisa bertahan dalam perihnya kesendirian. Hingga pada suatu siang, engkau bercerita tentang sebuah perjalanan. Tentang mimpi-mimpi yang ingin engkau raih. Tentang harapan yang ingin engkau  realisasikan.
 Sendirian. Ya benar, sendirian. Walau kau tak pernah merasa sendiri. Namun tetap saja ku mengatakannya kau sendirian menjalani itu semua.

Engkau ingin pergi. Dengan senyum itu—senyum yang menggambarkan ketegaran. Walau kadang aku masih bertanya, apakah kau membuat-buatnya untuk menutupi kesendirian? Seperti aku yang memaksa senyumku tergores agar terlihat kuat dimatamu?

Mungkin kau merasakannya atau mungkin tidak sama sekali. Kecemasan diri ini akan kesendirian. Kegelisahan hati, akan sebuah kesepian.

Aku kehilangan. Walau ku tak peduli bila kau tak merasakan kehilangan itu. Karena memang kehilangan ada karena rasa kepemilikan. Sedangkan kita tidak pernah merajut apapun. Bahkan memulai sesuatu apapun tidak pernah.

Jadi tidak ada yang terputus dalam hal ini. Karena memang belum ada yang tersambung. Akan tetapi rasa takut kesendirian itu masih memenuhi ruang jiwaku. Apakah mungkin hati ini menerjemahkan kepergianmu berarti kesendirian?

Ah, biarlah rasa ini menerka-nerka sesuka hatinya. Dan biarkan pula aku yang resah ini terdiam hening mendengar semua berita kepergian.

Maka ajari aku bagaimana caramu menghadapinya. Berlawanan dengan sebuah hal mengerikan bernama kesendirian.

-AP-
 Sebuah Fiksi Prosa 
 



 



Selasa, 22 September 2015

Bagaimana Bisa Ku Ingin Akan Kesempurnaan?

Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila yang kucintai darimu adalah sebuah ketidaksempurnaan.

Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila kesederhanaanmu yang selama ini menyihir diri. Hingga mulut ini membisu. Hanya diam terpaku didepan kebersahajaanmu.

Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila hanya dengan seperti ini saja, bisa membawa ku bahagia. Tersenyum rapi dalam melodi indah. Menikmati representasi cinta tak terkira. Menghayati keteduhan rasa tiada tara.

Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila ketidak sempurnaanlah yang nantinya menyatukan kita. Engkau yang mengisi kekosonganku. Dan aku yang menutupi silapmu.

Kita saling membantu dalam keterbatasan. Saling membahu dalam sekat yang menghalang.

Maka biarlah aku memilih ketidak sempurnaan. Karena bila aku memilih kesempurnaan, aku tidak akan mungkin menemukanmu. Hanya berputar-putar, lalu kelelahan.

Biarlah aku memilih ketidak sempurnaan. Karena sebagai manusia di bumi, mana mungkin ku mengharap langit turun untuk memeluk ku. Berteriak-teriak tak menentu, menengadah tak jelas. Sedangkan yang terbaik sudah berada disamping.

Jadi, Kita biarkan saja kesempurnaan hanya berada di langit. Karena aku tak butuh kesempurnaanmu untuk meniti ketenangan cinta dalam kasih sayang-Nya.

Karena Ia Maha Sempurna, Maka kita saksikan Allah yang menyempurnakan ketidak sempurnaan kita. Hingga kita bertautan dari dunia sampai surga.

#MelangkahMenginspirasi



Cinta Lebih Butuh Pembuktian, Bukan Alasan

Terkadang kita terlalu sibuk membangun sebuah alasan akan mencintai. Merangkai ribuan kata, sambil menghitung-hitung apa saja yang telah terfikir di kepala kita.

Terkadang kita terlalu pandai menghimpun aksara, meramunya menjadi kalimat indah. Lalu di sampaikan dengan nada yang menyentuh hati.

Terkadang kita terlalu resah kala mulut membisu, badan membeku. Saat sebuah pertanyaan hadir. Tentang mengapa kita mencintai, tentang alasan sesuatu untuk dicintai.

Ketahuilah, tak perlu bibir ini kelu kala menyampaikan cinta. Karena cinta sungguh tak serumit yang engkau kira. Ia sederhana. Se-sederhana air yang mengalir, udara yang kau hirup, dan mentari pagi yang kau sapa.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu nyata. Seperti air yang berlari riang. Gemericiknya memanjakan telinga. Kesegaranya, menghapuskan dahaga. Ia warnai sekitarnya dengan kesejukkan. Ia bekerja, bukan bicara.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu ada.Seperti udara yang tak terlihat. Tak perlu ia tampak untuk menghidupi. Hanya dengan masuknya ia kedalam hidung. Dan mengitari tubuh. Ia buktikan cintanya kepada kita. Dan dengan karunia-Nya. Sang udara hadir untuk membawa oksigen kehidupan. Ia bekerja, bukan bicara.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu terasa. Seperti mentari pagi yang tersenyum dengan segala kehangatannya. Ia sinari wajah-wajah ceria untuk bekerja. Ia rasuki jiwa-jiwa manusia untuk membakar semangatnya. Ia tebar gelora hangatnya seantero dunia. Ia bekerja, bukan bicara.

Maka, tiada perlu engkau menjadi pujangga untuk mencinta. Katakan saja kau mencintainya karena memang kau mencintainya. Lalu kau hanya perlu buktikan. Karena cinta lebih butuh pembuktian dari pada alasan.

#MelangkahMenginspirasi



Senin, 21 September 2015

Tak Selalu Ada Kata Pengertian dalam Sebuah Ketulusan


Kadang kita terlalu sering menuntut akan sebuah pengertian orang yang kita sayang. Hingga keluarlah kalimat-kalimat dari mulut kita seperti bahwa “Ayah ku tak ngertiin aku” atau “Kamu kenapa sih sebagai sahabat ga pernah ngertiin aku?”

Bahkan dalam kerja-kerja dakwah dan kerja sosial kita, sering kali kita menuntut sebuah pengertian. Seakan-akan hanya itulah yang menenangkan hati, hanya itulah yang pengusap letih.

Tubuh ini melemah, semangat ini menurun. Dan tekad pun rapuh hanya karena tiada rasa pengertian dari orang-orang sekitar dalam kerja-kerja dan kehidupan kita.

Manusiawi? Ya benar, rasa ingin dimengerti adalah manusiawi. Tak salah. Sungguh tiada yang keliru dalam perasaan ini. Hanya saja bila rasa ingin di mengerti itu di sanding dengan sebuah ketulusan. Maka tidak ada keserasian didalamnya.

Karena pada dasarnya, sebuah ketulusan tak membutuhkan pengertian. Ia murni, ia suci. Ia akan tetap tegak tanpa ada yang mendukungnya. Tak perlu sebuah pemanis bernama pengertian untuknya tetap bergerak. Ia akan tetap menjadi ruh untuk karya-karya kedepannya. Dengan atau tiadanya pengertian.

Seperti Rasulullah yang tulus menyuapi orang yahudi nan buta dan tua renta. Ia tak butuh pengertian dari sang pengemis. Bahkan pengemis buta tersebut mencaci, memaki dan mengatakan hal-hal buruk tentang Rasulullah. Tiada rasulullah meminta pengertian sang pengemis, tiada Rasulullah meringis karena seseorang yang dengan hati-hati ia suapi makanan, malah mengatai ia dengan hal-hal buruk.

Sungguh tiada penuntutan akan sebuah pengertian. Rasulullah hanya diam dan menyuapinya dengan penuh ketulusan.

Layaknya hujan yang jatuh menyejukkan bumi. Ia tetap bekerja, melakukan apapun yang ia dapat kerjakan. Ia sirami tumbuhan yang kekeringan, ia penuhi sungai-sungai yang mulai surut. Ia buat sensasi dingin dalam bumi yang mulai panas tak terkira.

Ia tetap berkarya, walau kadang manusia menggerutu akan hujan yang datang membasahi jemurannya. Atau orang-orang yang berkeluh kesah akan bajunya yang kuyup. Hujan tetap tulus datang untuk dunia. Walau manusia tidak mengerti.

Maka tak perlu ada kata pengertian untuk sebuah ketulusan. Karena ketulusa begitu berarti bila hanya dibalas dengan sebuah pengertian. Ketulusan begitu mewah bila hanya dibalas sebuah keinginan untuk dimengerti.

Maka cobalah untuk tidak menuntut untuk ingin dimengerti.

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 16 September 2015

Hujan yang Indah, Walau Tidak Bulan Juni

Siapa yang tak mengira kedatanganmu. Tanpa permisi kau hadir. Membawa kesejukkan, membawa kesyahduan.

Kau warnai kesunyianku dengan melodimu. Kau harmonikan kesepianku dengan simfonimu. Kau gubah kesendirian ini dengan alunan nada yang menggugah.

Maka tiadalah yang lebih tabah dari mu. Karena siapa pula yang dapat merahasiakan rintik rindunya kepada bunga? Karena rindu merupakan hal rumit yang tiada terkira. Ia memberontak dalam dada. 
Menyiksa hati yang menyimpan kuat rasa itu.

Ia bawa diri ini berlayar dalam lamunan panjang. Ia tarik diri ini dalam ribuan tanya akan sosok kehadirannya.

Biarkan diriku menjadi bunga yang menyerah dalam kerinduan. Termangu dalam kekuyupan rindu yang mengguyur dan dengan tabahnya menyembunyikan rasa itu dalam kelopakku.

Aku kebingungan, aku tak berdaya. Tak kuasa diri ini berjalan dengan pasti karena aku tertawan. Ya, aku tertawan dalam penjara yang tiada penjara lebih indah darinya. Kau menawanku dalam setiap untaian katamu, kau menawan ku dalam setiap sikapmu, dan kau menawanku dengan segala tentangmu.

Dan sempurna kau membuatku gugup. Hingga setiap langkah kaki yang kugerakkan, selalu ditemani dengan keraguan.

Bijaklah hujan itu. Ia hapuskan jejak kaki keraguan itu dalam sepanjang jalanku. Walau kadang butiran cinta juga terhapus bersama jejak yang ku torehkan.

Maka, dalam gejolak yang mengaduk-aduk hati ini. Aku memilih untuk diam. Karena memang tak semua yang kita rasakan harus terucapkan.

Mungkin sebagian rasa begitu mengagumkan bila tersampaikan. Namun sebagian lain bisa lebih mempesona bila tak terungkap. Ia tertata rapi dalam keterdiaman. Walau kadang diri tenggelam dalam tak berdayaan.

Maka tiada yang lebih arif darinya. Ia biarkan kata-kata yang tak terucap. Terserap oleh akar-akar pohon bunga. Sampai Sang Maha Kuasa menghilangkan kata itu untuk dilupakan. Atau mengambilnya kembali untuk di reaslisasikan dibumi.

Hingga pada akhirnya, ku ingin berterima kasih kepada hujan. Ia tentramkan diri yang terpaku dalam kesenduan. Ia luruhkan segala rasa untuk menyerah yang dulu makin menderas.
Ia buat ini menjadi semakin indah. Walau ia tak jatuh di bulan juni.

Azmul Pawzi
- Sebuah Interpretasi Puisi Sapardi Djoko Damono berjudul hujan bulan juni -