Selasa, 10 Maret 2015

Di Kandang Para Penggerak

Dipojok kampus tua.
Termenung sebuah gejolak mahasiswa yg tertinggal bernama pergerakkan.
Ia kosong, tak seperti dulu.
Kala ia gagah berani tegak berhadapan laras panjang pemerintah.

Di pojok kampus tua.
Aksi dan advokasi tak lagi sebuah penyampai suara.
Hanya pelepas tanya bahwa pergerakan masih ada.
Mereka sibuk sambutan dalam mimbar-mimbar beriuh tepuk tangan.
Meninggalkan jiwa pergerakkan yg tersungkur lesu di pojok kampus tua.

Di kandang para penggerak.
Mereka para penguasa pergerakkan mulai terlupa.
Terbuai dengan gemerlapnya event-event meriah.
Terpana dengan acara akbar skala meluas berdecak kagum terpesona.

Di kandang para penggerak. Para prajurit-prajurit pergerakkan bungkam tanpa kata.
Resahnya terkungkung lembaran kertas bernama sertifikat.
Prinsipnya tenggelam dalam tumpukkan kertas terbubuhi tanda tangan.
Mereka bungkam, mereka diam, hilang timbul, lalu mengaku berkerja sbg aktivis penggerak.

Di kandang pergerakkan.
Tergeruslah budaya diskusi tentang rakyat.
Pernyataan sikap hanya pandai-pandai pimpinan pergerakkan.
Tak ada lagi pencerdasan prajurit.
Mereka hanya dituntut datang, meramaikan teriakan-teriakan kepedulian tanpa tau apa yg di teriakan dengan toa.

Di kandang para penggerak.
Aspirasi prajurit bukanlah hal patut dihiraukan.
Mereka yg bicara atas nama ketidak idealan adalah makhluk haram pergerakkan.
Ia adalah hama yg harus disingkirkan.
Karena lebih baik bertahan dikekalutan organisasi dari pada terusik citra.

Di kandang para penggerak.
Tempat itu rindu dialektika para prajurit ttg bangsa.
Tempat itu rindu ttg sebuah keterbukaan penyampaian aspirasi.
Tempat itu rindu ttg kebersamaan gerak tanpa ada lagi otoriteran memimpin.
Kerinduan sang saksi bisu pergerakkan mahasiswa.

-Azmul Pawzi-
Ditulis atas dasar keresahan untuk keberlangsungan pergerakan mahasiswa kedepan.
Untuk mu, aktivis se-bangsa se-tanah air.

0 komentar:

Poskan Komentar