Selasa, 05 Mei 2015

Kerinduan yang Merindui Rindu


Semua janggal. Semuanya tak penuh. Layaknya puzzle yang kehilangan satu potong. Hingga kala semua potong puzzle yang ada tersusun. Kosonglah satu bagian. Meninggalkan sebuah kehampaan.
Ada yang hilang. Ya, mungkin itu yang terjadi. Aku tak mengerti. Padahal hanya seorang engkau yang pergi. Bahkan detik-detik saat engkau ingin melangkah menuju bandara itu. Tak ada kata spesial ku ucapkan. Bahkan aku pun tak berdiri dihadapamu. Hanya berdiri dibelakang teman-temanmu. Karena memang siapa aku. Bahkan berbincang lama saja aku tak pernah, atau mungkin lebih tepatnya aku tak sanggup berbincang denganmu. Tanpa berbincang saja, perasaan ini sangat menghujam di perasaanku. Apalagi pernah ku berbincang denganmu.

Lalu dengan senyum terakhir itu, engkau berbalik arah. Bersiap menuju tujuanmu. Mengejar setiap mimpi-mimpimu. Aku tak menangis, sungguh. Tak ada setetes air mata pun mengalir diwajahku. Bahkan, berkaca-kaca saja tidak.
Lihatlah, tubuh ini tak bergetar, tak sedikitpun. Bahkan akupun sempat tersenyum kepadamu. Namun, entah kenapa. Hati ini bergunjang. Tak seperti tubuhku yang tetap tegar. Gunjangan dalam benak itu cukup keras. Terlebih saat aku hanya melihat tas yang kau panggul di punggungmu.
Hem, kadang aku iri terhadap handphone yang engkau genggam. Ia dapat menemanimu kemana kau pergi. Aku pun juga iri terhadap setiap benda mati yang ada di sekitarmu. Setidaknya mereka dapat menatapmu setiap saat.
Pedih memang, apalagi saat kulihat tak ada lagi sosokmu. Engkau hilang. Bahkan, baru saja beberapa detik aku sadar engkau tak akan kulihat dalam waktu yang lama. Kemelut terjadi dalam tubuhku. Rasa apa ini, sulit ku definisikan. Aku tak mengerti, begitu rumit. Sulit dijelaskan. Namun banyak orang menjelaskan ini dengan sebuah kata. Rindu. Ya mungkin itu namanya. Namun perih memang. Baru sejenak padahal, namun rindu itu telah merasuk.
Akan tetapi dapatkah ini semua didefinisikan sebagai rindu? Mungkin sebuah bahasa sulit memahami apa yang kurasakan. Ini tak mudah. Bukannya dulu, saat ia berada dalam dekatku, kala kota ini masih menjadi tempat ia berada. Rindu itu telah ada. Bahkan aku lebih menyukai rindu yang seperti itu. Bukan rindu yang baru saja kurasakan. Aku akan merindukan rindu itu. Kerinduan yang merindui rindu. Rumit memang, namun itu terjadi.

Sebuah Fiksi Prosa

Azmul Pawzi

0 komentar:

Poskan Komentar