Jumat, 14 Agustus 2015

Cinta yang Menyendiri


Pelik memang saat kita melihat tragedi hilangnya sosok yang dicinta dalam kehidupan. Ia perih, bahkan cairan asam yang tersiram dalam luka tidaklah lebih perih seperti yang dirasakan seorang patah hati. 

Orang-orang besar yang pernah tercatat oleh bumi ternyata pernah jua merasakan. Maka kita mengenal Sayyid Quthb dengan serial patah hatinya. Dalam sebuah disertasi tentang Sayyid Quthb, diceritakan bahwa seorang syahid di tiang gantungan ini pernah jatuh cinta. Ia jatuh cinta pada sorot mata seorang gadis, yang dalam bahasa Sayyid Qutb,  bukanlah gadis yang cantik dalam pandangan orang mesir. Walau seperti itu, cinta Sayyid Quthb telah tercurah. Rasa itu telah mengalir deras, tak terbendung.

Maka ia pun bersiap meminang gadis itu, sebuah tragedi terjadi. Ternyata memang benar, kadang akal tak dapat mengikuti resonansi cinta. Dalam persiapan pernikahannya. Gadis itu jujur bahwa Sayyid Quthb bukanlah lelaki pertama yang mengisi hatinya.

Retak sudah harapannya. Keangkuhannya rutuh, amarahnya membuncah. Mimpi meminang gadis yang perawan fisik maupun hati telah usai. Gadis itu hanya perawan fisik. Dan Sayyid pun membatalkan segala hubungannya yang siap untuk menikah.

Namun, cinta itu telah terlanjur tercurahkan. Ia layaknya banjir membandang yang memenuhi hati sang Syahid. Dengan penuh penyesalan, ia kembali kewanita itu untuk melanjutkan pernikahan yang telah ia batalkan. Akan tetapi, gadis itu menolak.

Penolakkan itu beriringan dengan patahnya hati sang Sayyid Quthb. Dalam kelinglungan diri, ia curahkan segala perihnya hati dalam puisi, hingga terkumpullah bait-bait roman karya Sayyid Quthb. Hingga dalam fase kehidupan ia selanjutnya, ia dipenjara selama 15 tahun, dan berakhir di tiang gantungan dalam keadaan sendiri, ya benar sendiri.

Namun, dalam penjara itu, lahirlah Tafsir Qur’an fenomenal dari tangannya, Fii Zhilalil Qur’an. Sebuah Tafsir yang memiliki keindahan sastra yang di akui seantero muslim dunia.

Sama layaknya Sang Sastrawan hebat dari Pakistan, kahlil Gibran. Ia jatuh cinta, mata dan hatinya telah tertuju pada seorang gadis. Hingga cinta yang tak sampai itu membawanya menulis sebuah buku yang luar biasa berjudul “Sayap-sayap patah”. Hati mana yang tak tersentuh ketika membaca bait-bait syair dalam buku tersebut. Ia bagai ruh yang membawa kita kedalam dalamnya sakit yang dirasakan sang Kahlil Gibran.

Begitulah cinta, ketika ia meninggalkan kita sendiri. Hal apa yang akan kita lakukan. Terpuruk nista dalam kegalauan, atau merubah perihnya sakit hati menjadi karya yang dikagumi umat manusia. Para orang-orang besar memilih yang kedua. Karena cinta yang menyendiri bukanlah sebuah kenesatapaan. Ia memang menyakitkan, tapi ia dapat menjadi energi yang tak terkira kala kita bijak menggunakannya.

Sudahkah kau gunakan dengan baik kegalauanmu?

0 komentar:

Poskan Komentar