Minggu, 16 Agustus 2015

Merdeka dari Kebodohan


70 tahun bukanlah angka yang muda untuk sebuah negeri. Ia telah bertambah usia, ia telah tumbuh dewasa, hingga ia telah bersiap-siap, memantapkan kuda-kuda. Dan pada akhirnya ia melompat tinggi, menjulang dan menjadi besar.

Dalam tumbuh kembangnya negeri ini. terkadang kita lupa. Kita begitu terfokus akan material yang terhampar indah di Nusantara. Kita terjebak pada keyakinan bahwa kekayaan terbesar bangsa ini adalah minyak, gas , tambang, atau bahkan lautan biru yang membentang atau hutan lebat menghijaukan dunia.

Ya benar, kita lupa bahwa sesungguhnya kekayaan Indonesia terbesar adalah manusianya. Kita merdeka bukan karena kekayaan alam kita, namun karena kemampuan sumberdaya manusia kita.

Maka coba renungkanlah, hal apa yang membuat kita terjajah?  Dan hal apa yang membuat kemerdekaan dapat kita raih. Oleh karena itu silahkan teman perhatikan, bahwa Allah mengkehendaki hanya mereka yang berilmu-lah yang akan membawa kemerdekaan.

Dapat kita saksikan sesama, mereka yang memproklamirkan kemerdekaan adalah para anak bangsa yang memiliki ilmu. Soekarno seorang Insinyur dari sebuah kampus yang kini kita kenal ITB. Atau bahkan Bung Hatta yang belajar ilmu di Rotterdam belanda dan kembali kenegerinya untuk mengusir belanda.

Ilmu adalah hal pasti untuk sebuah kemerdekaan. Dan ketahuilah, berilmu pada saat itu bukanlah hal mudah. Bagaimana kau bisa termotivasi belajar ketika Bangsa sebesar Indonesia ini, sebesar 95% penduduknya buta huruf. Tak dapat membaca.

Kebodohan menjangkiti bangsa dengan kekayaan alam ini. Maka terjajahlah kita. Beratus-ratus tahun lamanya. Tapi dapat kita lihat, atas takdir-Nya, Negara ini lahir dari tangan para intelektual.

Maka lihatlah kebenaran firman Allah pada ayat 11 surat Al-Mujadilah “..... Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang berilmu beberapa derajat...”

Dan saksikanlah bahwa Allah menjadikan mereka yang berilmu menjadi orang-orang bermanfaat untuk membebaskan negeri ini dari keterjajahan hingga akhirnya kebodohan yang telah menjangkiti bangsa ini telah hampir sempurna hilang.

92 persen penduduk Indonesia telah melek huruf, namun jika kita perhatikan lebih dalam. Kebiasaan membaca bangsa ini begitu kurang. Bangsa Indonesia membutuhkan waktu 15 hari untuk membaca sebuah halaman. Begitulah hasil survey unesco.

Padahal membaca adalah kebiasaan orang-orang besar yang telah berperan penting dalam kemerdekaan bangsa.  Kita mengenal Tan Malaka yang hidupnya walau terusir dan berdiaspora ke negara-negara lain. Namun buku berpeti-petinya tetap menemani walau silih berganti hilang.

Kita juga mengenal bung hatta sang kutu buku yang telah melahap berbagai ilmu dari buku-buku. Kita dapat melihat banyaknya bacaan bapak proklamator ini dari koleksi buku di pustaka pribadinya.
Dan kita juga mengenal soekarno yang menguasai berbagai gagasan-gagasan besar dunia. Sehingga ia dapat memandu bangsa yang terbelakang hingga menuju sekarang.

Membaca adalah budaya para orang besar, membaca adalah kebiasaan para intelektual. Maka memperingati 70 tahun lahirnya negara ini, kami Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia membuat gerakkan #Baca25 untuk seluruh warga bangsa.

Gerakkan ini hanya mengajak setiap elemen masyarakat bangsa untuk membaca 25 halaman sehari. Mudah bukan? Tak perlu kita mengikuti Badiuzzaman Said Nursi yang dapat membaca seribuan halaman dalam sehari. Cukup 25 halaman. Maka kita dapat menyinari bangsa dengan ilmu.

Karena kami percaya, kebodohan adalah tanda masyarakat terjajah. Maka dengan membaca adalah cara meretas kebodohan tersebut. Mari membaca, agar bangsa ini sempurna merdeka dari kebodohan.

Azmul Pawzi
Koordinator Komisi A FSLDK Sumbar

0 komentar:

Poskan Komentar