Selasa, 22 September 2015

Cinta Lebih Butuh Pembuktian, Bukan Alasan

Terkadang kita terlalu sibuk membangun sebuah alasan akan mencintai. Merangkai ribuan kata, sambil menghitung-hitung apa saja yang telah terfikir di kepala kita.

Terkadang kita terlalu pandai menghimpun aksara, meramunya menjadi kalimat indah. Lalu di sampaikan dengan nada yang menyentuh hati.

Terkadang kita terlalu resah kala mulut membisu, badan membeku. Saat sebuah pertanyaan hadir. Tentang mengapa kita mencintai, tentang alasan sesuatu untuk dicintai.

Ketahuilah, tak perlu bibir ini kelu kala menyampaikan cinta. Karena cinta sungguh tak serumit yang engkau kira. Ia sederhana. Se-sederhana air yang mengalir, udara yang kau hirup, dan mentari pagi yang kau sapa.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu nyata. Seperti air yang berlari riang. Gemericiknya memanjakan telinga. Kesegaranya, menghapuskan dahaga. Ia warnai sekitarnya dengan kesejukkan. Ia bekerja, bukan bicara.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu ada.Seperti udara yang tak terlihat. Tak perlu ia tampak untuk menghidupi. Hanya dengan masuknya ia kedalam hidung. Dan mengitari tubuh. Ia buktikan cintanya kepada kita. Dan dengan karunia-Nya. Sang udara hadir untuk membawa oksigen kehidupan. Ia bekerja, bukan bicara.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu terasa. Seperti mentari pagi yang tersenyum dengan segala kehangatannya. Ia sinari wajah-wajah ceria untuk bekerja. Ia rasuki jiwa-jiwa manusia untuk membakar semangatnya. Ia tebar gelora hangatnya seantero dunia. Ia bekerja, bukan bicara.

Maka, tiada perlu engkau menjadi pujangga untuk mencinta. Katakan saja kau mencintainya karena memang kau mencintainya. Lalu kau hanya perlu buktikan. Karena cinta lebih butuh pembuktian dari pada alasan.

#MelangkahMenginspirasi



0 komentar:

Poskan Komentar