Selasa, 15 September 2015

NU, Jenggot dan Islam Nusantara


Nahdatul Ulama merupakan salah satu organisasi tertua dan terbesar di Indonesia. Jasa NU dalam dakwah islam yang tertanam dalam pesantren-pesantrennya sehingga menghasilkan ulama-ulama tak perlu kita pertanyakan. NU itu sendiri didirikan oleh seorang ulama luar biasa bernama Hasyim Asy’ari. Beliau terinspirasi dari Muhammad Abduh yang sedang nge-trend kala beliau sedang mencari ilmu di mekkah.  Hingga kala pulang kampung ke Indonesia, akhirnya beliau mendirikan NU dengan salah satu semangat memurnikan islam.

Saya termasuk pengagum Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Beliau adalah sosok ulama besar patut kita ambil hikmah dari nasihat, kebiasaan dan perbuatannya. Namun akhir-akhir ini saya sedikit prihatin terhadap tubuh NU itu sendiri terutama bagian kepala (baca: Ketua). Tentu saja, Pak Said Aqil Siradj yang merupakan ketua NU menyampaikan sesuatu hal yang menyinggung ajaran umat islam. Yang dimana ajaran itu di laksanakan oleh bapak pendiri organisasi yang dipimpinnya.

Said Aqil dalam ceramahnya menyampaikan “Orang berjenggot itu mengurangi kecerdasan”, Ia juga menambahkan “Gusdur tidak berjenggot, Nurcholis Madjid tidak berjenggot, Quraish Shihab tidak berjenggot, yang cerdas-cerdas tidak berjenggot”.  Dan kalimat yang sungguh sangat melecehkan sunnah Rasulullah itu “Semakin Panjang Jenggotnya, Semakin Goblok”. Astaghfirullah aladzim. Semoga Allah mengampuni beliau. Karena menghina sunnah nabi adalah sebuah dosa. Dan kita juga berdoa kepada Allah agar kita semua senantiasa taat patuh kepada-Nya dan mengamalkan sunnah-sunnah rasulnya.

Saya sungguh tak habis fikir. Bagaimana bisa hal ini disampaikan seseorang yang dengan kedudukan ketua NU. Beliau menggembor-gemborkan Islam Nusantara. Mengatakan bahwa jenggot adalah arabisasi. Mengatakan bahwa islam nusantara memiliki kepribadian tersendiri. Dan memburukkan jenggot.

Sungguh jenggot adalah sunnah nabi yang secara jelas disampaikan nabi tanpa ambigu sedikit pun. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah bersabda“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.”. Sungguh para ulama sepakat ini, dan sabda nabi ini tak bisa dibandingkan dengar perkataan ulama seperti apa yang dilakukan para pembela  Said Aqil. Maka sebagai seorang muslim, tak pantas bagi kita mengolok-olok sunnah Nabi Muhammad SAW. 
 
Dan bila kita melihat dalam konteks NU itu tersendiri, KH. Hasyim Asy’ari berjenggot. Dan para penyebar islam di Nusantara, khususnya Wali Songo seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri dan berbagai ulama penyebar islam di nusantara juga berjenggot. Karena jenggot ini adalah sunnah islam.

Pernyataan jenggot mengurangi kecerdasan dan dibandingkan dengan orang-orang cerdas di Indonesia yang tak berjenggot, sungguh sebuah ungkapan yang tak bisa di pertanggung jawabkan. Bila Pak Said Aqil mengatakan orang berjenggot kurang cerdas. Padahal Imam Syafi’i, ulama yang madzabnya dipakai anggota-anggota NU memiliki jenggot yang lebat. Dan saya berani dan memastikan bahwa kecerdasan Imam Syafi’i jauh di atas orang-orang yang dicontohkan Pak Said. Dan tentu sangat jauh diatas Said Aqil Siradj yang nyeleneh bilang orang berjenggot goblok.

Bahkan KH. Hasyim Asy’ari itu sendiri adalah ulama yang berjenggot. Ulama-ulama Indonesia lainnya seperti KH. Ahmad Dahlam juga berjenggot. Mereka adalah ulama yang sudah masyur di bumi nusantara dengan kecerdasannya. Tidak goblok dan kurang cerdas seperti apa yang diucapkan Bapak Ketua NU tersebut.

Saudara ku semua, dalih arabisasi yang dipakai Said Aqil Siradj dan berbagai tokoh yang menggaung-gaungkan islam nusantara sesungguhnya merupakan langkah-langkah untuk menjauhkan kita dari ajaran Rasulullah SAW. Mereka ribut akan penampilan bahwa memakai jubah dan berjenggot itu arabisasi dan harus di tentang karena berlawanan dengan islam nusantara dan kepribadian bangsa. Namun mereka diam akan westrenisasi, amerikaisasi, koreaisasi dan berbagai fashion dan lifestyle lain menyerbu muslim Indonesia. Padahal serangan itu lebih membahayakan dari pada menyalah-nyalahkan ajaran Rasulullah.

Dan sesungguhnya, islam nusantara yang mereka gembor-gemborkan juga tak sesuai dengan islam itu sendiri. Karena Islam adalah agama yang universal. Dan dalam bahasa islam tak dapat disandingkan dengan kata apapun. Bila islam disandingkan dengan kata apapun, itu akan menyempitkan arti islam itu sendiri. Sebagai contoh motor. Bila kita menyandingkan kata motor dengan bebek sehingga menjadi motor bebek, ini akan menyempitkan arti motor itu sendiri.

Maka sesungguhnya, islamyang sebenarnya adalah islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah. Tidak ada islam nusantara, islam arab, islam jawa, islam minang, islam korea, islam amerika, islam eropa, islam syiah, islam liberal dan islam-islam lainnya. Karena islam hanya satu, yaitu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Bila dalam Al-Qur’an diperintahkan sesuatu, bila dalam Hadits di sunnahkan. Maka kita harus taat dan tidak boleh mengolok-ngoloknya.

Semoga kita dijauhkan dari propaganda-propaganda yang menjauhkan kita dari islam. Dan kita senantiasa berdo’a agar Nahdatul Ulama terselamatkan dari paham-paham orang ingin menyimpangkan pemahaman muslim Indoneisa. Dan NU menjadi organisasi yang membawa kemurnian islam. Islam yang sesuai Perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagai mana mimpi KH. Hasyim Asy’ari ketika mendirikan NU.

Azmul Pawzi  (Ketua Komisi A FSLDK Sumbar)

0 komentar:

Poskan Komentar