Sabtu, 12 September 2015

Rembulan yang Dirindui (1)

Siapa yang tak mengenalnya? Pemuda cerdas yag berdiri tegap itu, Ya, aku mengenalnya. Bahkan melebihi mereka-mereka yang setiap hari membicarakannya. Juga melebihi mahasiswi-mahasiswi yang berulang kali ku dengar berbincang tentangnya. Aku mengenalnya, karena memang tidak mungkin ku tak mengenalnya. Namanya terdengar syahdu. Ia menjadi kebanggaan kawan-kawannya, terutama teman-teman se-fakultasnya. Dan tentu saja, teman sefakulyasnya adalah teman sefakultasku.

 
Ia, seorang lelaki yang wajahnya bagai mentari yang menyinari semesta. Senyumnya membakar semangat. Tutur katanya halus dan penuh hikmah. Teman, senior dan junior telah banyak meneguk inspirasi darinya. Matanya tajam namun teduh. Menyorotkan sebuah kepedulian. Hingga gerak-geriknya ia lakukan untuk sesama.

Maka tak mengherankan, ia di tunjuk sebagai ketua himpunan dan melanjutkan menjadi ketua organisasi kepemudaan tingkat provinsi yang senantiasa bergerilya berjuang untuk masyarakat. Ya, aku menyaksikannya. Aku menyaksikannya sejak ia berproses di himpunan dan organisasi kepemudaan itu. Aku menyaksikannya sebagai anggota. Ia memiliki kepemimpinan mempesona, pengelolaannya rapi, orasinya menggelora. Tak mudah menemukan seseorang sepertinya.

Dan kini, di bandara ini, pemuda itu berada di hadapanku. Tidak, tidak, tidak hanya di depan ku. Lebih tepatnya di hadapan teman-temannya yang lain. Bahkan ia tak tepat di depanku. Karena aku lebih memilih untuk tak mendekatinya. Dan berdiri di kerumunan belakang. Tak kuasa rasanya tubuh ini berhadapan dengannya. Bahkan sampai detik perpisahan ini, aku tak pandai berbasa-basi dengannya walau hanya sekedar kalimat indah perpisahan. “Selamat tinggal dan hati-hati”, hanya itu yang ku ucapkan, tiada yang istimewa. Namun kau menyambutnya dengan senyum, senyum bagai sinaran mentari yang membuatku tak sanggup menatapnya dan memilih menunduk.

Beberapa saat berlalu, kau akhirnya berbalik, menuju ruangan untuk mempersiapkan mu terbang tinggi. Jauh, hingga mungkin ku takkan bertemu denganmu. Engkau pergi, dengan membawa tas penuh dengan mimpi untuk di realisasikan.

Langkahmu pasti, derap langkahmu mantap. Aku mengingatnya, dengan mata penuh harapan. Kau berulang kali kau mengulang ini, mimpi-mimpi mu yang akan kau torehkan pasca wisuda. Kau sampaikan dengan menggelora di berbagai pelatihan, kau ungkapkan dengan semangat pada motivation training. Hingga kini kau mendapatkannya, mimpi untuk ke negara kincir angin untuk melanjutkan studimu akhirnya kau raih. Hingga satuan gerak kakimu membuat kau jauh, jauh, dan mengecil hingga kau hilang dari pandanganku. Dan benar, sosok mu sudah tak terlihat, lenyap tak berbekas.

Aku tak menangis, sungguh. Bahkan berkaca-kaca saja tidak. Aku masih dapat tersenyum. Walau ku akui, ada suatu hal yang berguncang dibenak ini. Cukup keras, hingga sakit dada ini. Guncangan yang tak ku sangka bisa sebesar ini.

“fira.... fira...” Rahel memanggilku, memecahkan segalanya.

“yeee.... dia ngelamun, dah ikhlasin aja Ka Rizki itu pergi.” Lanjutnya

“Apaan sih lu, siapa juga yang ngelamunin dia.” Jawab ku cuek

“Yaudah, kita balik yuk. Anak-anak ngajak makan tuh” Ajak rahel kepada ku.

Aku pun mengangguk dan mengikuti langkahnya.
***
         
       “Kadang kita harus membuat jarak dengan seorang yang kita cintai untuk saling menjaga”. Pernah ku mendengar ungkapan itu, sebuah ungkapan yang mengitari isi kepalaku. Sebuah ungkapan yang menegaskan bahwa kita harus menjarak untuk saling menjaga. Agar tiada yang tersakiti, dan agar tiada yang di murkai oleh-Nya.
        
        Karena mungkin rasa yang bergejolak dalam jiwa ini membuat kita ingin mendekatinya, berbicara dengannya, bersenda-gurau dan berjalan bersamanya. Namun kita harus mengetahui, saat kita mendekatinya, itu akan menjadi jalan awal kenestapaan kita. Itu bisa menjadi nelangsa dalam hidup kita. Kita rapuh, serapuh iman kita karena berdekatan dengannya. Kita ringkih, seringkih ketaatan kita kepada Sang Maha Kuat karena gurauan bersamanya.
          
Maka, kita harus mencontoh sang bumi. Karena cintanya kepada matahari, ia jauhkan dirinya. Agar tiada yang tersakiti, agar tiada yang tercerai-berai. Ia menjarakkan tubuhnya agar dirinya tak hancur, rusak berkeping-keping. Ia rela. Rela untuk menjaga dirinya dan matahari dari kehancuran.

Lalu sambil membuat jarak kita tersebut, kita berdo’a kepada-Nya. Agar cinta yang mengakar dalam itu, dapat terrealisasikan. Agar mentari yang panas itu, diubah-Nya menjadi rembulan. Agar ia dapat berlari riang menemani bumi menjalani orbit hidupnya. Agar ia dapat menerangi bumi dalam kegelapan. Selama-lamanya, hingga Allah menentukan waktu keberpisahan.
  
        Menjarak untuk sebuah keterjagaan. Itu yang ku lakukan sejak ku melihatnya. Walau perih, walau sulit. Semua rasa itu, ku simpan rapat dalam hati dan ku jaga dalam-dalam. Karena Allah punya jawaban. Karena Sang Maha Indah memiliki skenario yang tentu indah nanti. Entah matahari itu tetap menjadi matahari. Atau ia berubah menjadi rembulan nan cantik parasnya.
          
      Biar ku disini, berjalan seorang diri, melihat mentari ku dari kejauhan, diam dan berulang kali menggamitkan untaian do’a. Agar rembulan yang dirindui itu hadir untuk menjawab segala jawaban. Agar rembulan itu datang untuk menghapuskan kesendirian.  (to be continue...)

0 komentar:

Poskan Komentar