Kamis, 22 Oktober 2015

Ada Apa Dengan Kecewa?


“Dek, kenapa jilbabnya jadi pendek gitu?” , "Kecewa sama jama’ah kak"
“Bro, kok sekarang jadi pacaran?” "Gue kecewa sob sama orang-orang  di dakwah ini."
“Dek, kok sekarang jadi jarang ikut ngaji? Terus sekarang mau-mau aja di pegang sama lawan jenisnya?” "Kecewa bang sama senior-senior di lembaga dakwah."

Pernah denger kayak gitu? 
Mungkin teman-teman banyak yang mendengar kasus seperti diatas. Alasan yang sering digunakan mereka yang pernah aktif di dakwah kampus. Mereka meninggalkan lembaga dakwah, mereka meninggalkan jama’ah. Hanya dengan satu alasan, kecewa.

Mereka kecewa, hingga dengan kekecewaan itu mereka meninggalkan dakwah di ikuti dengan meninggalkan kebiasaan mereka saat bersama-sama memperbaiki diri di dakwah kampus.  Dan ini terjadi di mayoritas yang saya lihat.

Padahal dulu mereka memiliki kebiasaan tilawah yang banyak, amalan harian yang meningkat, dan semangat menasihati membara. Untuk yang wanita mereka menutup aurat sesuai syari’at,  jilbabnya terjulur panjang hingga pinggang, bahkan di sempurnakan dengan manset dan kaos kaki.  Dulu mereka yang lelaki begitu baik menjaga hati dan pandangan. Menjalankan amanah dakwah tanpa merasa letih.

Namun, atas nama kecewa. Mereka tinggalkan kebiasaan itu semua. Ada yang menghilangkan kebiasaan itu sedikit, ada juga yang banyak. bahkan ada yang menjadi penentang dakwah yang menjelek-jelekkan gerakkan dakwah.

Satu hal yang sebenarnya membingungkan saya, jika iya mereka kecewa dengan gerakkan dakwah. Maka seharusnya ia menjalankan dakwah yang lebih baik sistemnya. Lebih rapi langkahnya, lebih tersusun gerak-geriknya. Dan tentunya lebih sesuai Syari’at-Nya. Bukan malah meninggalkan perintah-perintah-Nya.

Memang tak semua yang meninggalkan dakwah kampus seperti itu, namun mayoritas yang saya lihat seperti itu. Mereka yang kecewa untuk yang laki-laki bakalan ujung-ujungnya kecewe (ke cewek/ pacaran). Kecewa berujung kecewe. Setidaknya hijab antar laki-laki dan wanita tak lagi hal yang penting. Bersentuhan menjadi hal yang biasa.

Atau yang perempuan, hijabnya semakin menjauhi syariat, mansetnya tak digunakan. Mulai berdandan berlebihan, bahkan sampai ada yang menggunakan pakaian yang ketat.

Maka lihat betapa ruginya mereka yang dulu pernah taat namun kini ingkar. Ini sebagai pengingat aku, kamu dan juga pembaca semua. Karena kerugian besar lah ketika hidayah telah memeluk kita, namun kita melepaskan dan meninggalkannya.

Semoga kita di jauhkan dari rasa kecewa yang menjauhkan kita dari Allah. Dan senantiasa di beri keistiqomahan.
#MelangkahMenginpirasi

0 komentar:

Poskan Komentar