Minggu, 01 November 2015

Itu Karena Cinta Akh


Hari ini aku habiskan hari di asrama. Bukan karena tidak ada agenda, namun keadaan dari tubuh ini yang tidak begitu bersahabat. Kepala yang berat, badan tak bertenaga di tambah suhu tubuh yang tinggi. Tidak enak badan? Mungkin itu istilah yang mungkin bisa menggambarkan keadaan diri. Hingga saya memilih untuk beristirahat hari ini di kamar.

Sorenya, ba'da shalat ashar aku memilih bersantai ria di sebelah kamar, di temani segelas susu putih hangat, sebungkus biskuit dan tentunya buku yang siap untuk di baca.

Sejam berlalu, gelas berisi susu yang kupersiapkan di awal sudah habis, dan kondisi biskuit-pun juga kurang dari setengah. Berlembar-lembar halaman juga sudah di lahap. Seseorang mengetuk kamar ku, menyadari aku tak berada di kamar. Ia melihat sekitar, dan menyadari diri ini berada di sebelah. Setelah ku perhatikan ternyata itu adalah Dedek, pembina asrama sebelah.

Dedek pun duduk di hadapanku, mengambil biskuit yang ku tawarkan dan membicarakan sesuatu. Kami terlibat berbagai tema obrolan,  termasuk keadaan aku yang kurang sehat. Mulut ini pun mulai menceritakan akan keadaan diri yang merasa waktu yang amat sempit, amanah yang semakin berat, dan fikiran yang semakin sesak. Ia mendengar takzim.

"Akh, berulang kali ana ingin menghentikan, dan mengatakan masa bodo. Tapi entah mengapa tetap aja ana kerjakan semuanya semaksimal mungkin." Ungkapku.

"Itu karena cinta akh" Jawabnya singkat.

Aku pun tertegun, singkat memang menjawabnya. Bahkan terkesan menjawab dengan asal. Namun entah mengapa jawaban itu langsung melintas di fikiranku dengan dalam.

Itulah cinta, kala kita telah mencintai sesuatu. Seletih apapun tubuh kita memenuhi seruannya. Berulang kali diri merasa ingin meninggalkannya. Namun tetap saja, cinta akan tetap memanggilmu untuk menemuinya. Mengerjakan apapun ia mau. Walau keringat bercucuran, air mata menetes, hingga tubuh tersungkur. Ia akan tetap memaksamu mengerjakannya.

Dan dengan anehnya, engkau akan senang hati mengerjakannya. Merasa tidak ada hal yang berat ketika menjalaninya. Walau kadang sesekali kau merasa ingin menyerah, meninggalkan ia. Namun ketika cinta itu menghimbaumu kembali. Dengan seketika kau melupakan keletihanmu, tak menghiraukan kata-katamu yang ingin meninggalkannya. Seruannya bagaikan sihir yang menghipnotis diri hingga kau akan paripurna berjuang untuknya.

Lalu sebuah pertanyaaan hadir. Bagaimana bila cinta itu mengalir ke sesuatu yang dibenci Allah? Maka kau akan senang hati melakukan kemaksiatan. Menambah pundi-pundi dosamu. Berbuat berbagai keburukan dengan rasa tak bersalah. Bahkan kesalahan yang diperbuat itu menjadi sebuah hal yang benar kau rasakan. Hingga kau tak memedulikan orang lain yang menyampaikan kebenaran yang hakiki kepadamu.

Jadi, arahkanlah cintamu kepada hal yang dicintai-Nya. Agar setiap kerja-kerja cintamu menjadi sesuatu hal yang menambah hitungan amal baikmu.

Maka berhati-hatilah dalam mencinta.

#MelangkahMenginspirasi



0 komentar:

Poskan Komentar