Rabu, 16 Desember 2015

Terlahir Menjadi "Orang Dapur"

 
Seorang ustadz bertanya kepada gurunya. Sosok yang senantiasa membimbingnya dan tempat ia terbiasa mendapat nasihat. Kala itu ia meminta pandangan sang guru atas keputusan besar yang akan ia ambil.

Diskusi itu berjalan panjang, permasalahan ini bukanlah hal kecil. Bukan hanya tentang individu, namun merembes hingga negara dan tentunya akan menentukan gerak dakwah kedepannya. Hingga sebuah pertanyaan hadir, pertanyaan yang jawabannya akan menjawab semua jawaban. Guru itu bertanya :

“Suatu saat antum mungkin akan jadi pemimpin nasional di masa yang akan datang, apa ini tidak akan jadi masalah?”

Ustadz itu terdiam,  cukup lama. Namun akhirnya dengan mantap ia menjawab.

“Saya tahu diri saya ustad, saya lebih tepat untuk kerja-kerja dapur ketimbang jadi pejabat publik.”

Masya Allah.

Saya mendapat banyak pembelajaran dari cerita ini. Sebuah kisah yang menjadi bahan renungan saya sejak pertama kali membaca kisahnya. Bukan, hal ini bukan tentang jabatan publiknya yang menjadi sorotan. Hal ini tentang memahami diri.

Saya pengagum ustad tersebut. Tulisan, pola fikir, cara bicara dan berbagai gestur kerap kali saya ambil menjadi referensi dan contoh. Dan saya makin terkagum dengan jawaban yang ia berikan. Ia memilih menjadi orang dapur dan menjalani pilihan besar dalam hidupnya itu.  Walau pilihan itu kemungkinan akan berlawanan dengan kesempatan menjadi penjabat publik yang sudah ada di depan matanya dan banyak orang melihat ia mampu mengemban jabatan itu.   

Ia memilih menjadi orang dapur, karena ia memang menganggap jabatan tidak serta merta menambah kontribusi. Namun jika kita memiliki kapasitas besar, maka kontribusi kita akan gemilang walau tanpa jabatan.

Kisah ini menjadi renungan saya, membawanya dalam kontemplasi diri. Menghadirkannya kala diri ini menyepi.

Dalam renungan itu, saya menghadirkan diri saya sejak pertama menjalani organisasi sejak SMP, hingga menapaki tahun  4 kuliah ini.

Hampir setiap pilihan amanah organisasi saya cenderung mengambil posisi orang “dapur”. Memilih mengoprasikan organisasi, mengolah manusia, memasaknya, dan melihat mereka berkembang.

Ketika SMA, kala teman-teman mengejar prestasi dalam dunia persilatan, saya memilih membuka tempat latihan silat baru untuk anak-anak SMP. Walau pada akhirnya prestasi silat saya tidak secemerlang teman-teman lainnya. Hanya menyabet perunggu di tingkat jabodetabek dan jakarta barat. Namun mata saya berbinar cerah kala melihat adik-adik SMP yang saya latih mendapat prestasi di tingkat daerah.

Di eksul jurnalis siswa-pun, ketika kelas tiga dan alumni. Saya mencoba kembali kepada adik-adik yang menjalani amanah, menemani, memberi mereka semangat dan tempat bertanya. Dan senang kala mereka berprestasi. Begitu juga di ROHIS, menjadi ikhwan di angkatan saya yang suka kembali ke agenda ROHIS setelah lulus.

Masa SMA berlalu, dan kala kuliah semua tergambar jelas. Amanah Pengembangan Sumber Daya Manusia maupun kaderisasi menempa saya untuk menjadi “orang dapur”. Memimpin bidang PSDM saat di AMA Unand, kepala bidang kaderisasi di Lembaga Dakwah Fakultas, penanggung jawab mentoring fakultas, sampai di BEM dan organisasi kepemudaan-pun saya pernah di amanahkan dalam bidang sumber daya manusia.

Tidak berhenti disitu saja, hingga saat ini berbagai amanah yang sangat berkaitan dalam “dapur” organisasi dan gerakan serta berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan manusia masih saya jalani. Seperti membina ratusan mahasiwa baru di Asrama Mahasiswa Unand serta dalam satu semester mengajar sebagai asisten dosen.

Pada awalnya saya tak memahami hal ini. Hingga kurang lebih satu tahun lalu membaca kisah di atas, saya mencoba berkontemplasi, melihat apa dalam diri saya secara jernih. Dan menemukan jawaban bahwa dalam pandangan saya, saya lebih pas menjadi "orang dapur".  Mengoperasikan dan mengolah keberlanjutan gerakan dari belakang.

Meminjam istilah sosok yang saya mereguk banyak inspirasi juga, yaitu jadilah “Pahlawan di Jalan Sunyi”. Karena kontribusi tak selalu dibayar dengan sorak sorai tepuk tangan dan decak kagum. Kadang ia cemerlang dalam kesunyian. Kadang ia berkilau tanpa ada orang yang silau memandangnya.

Maka biarkan diri ini hanya menjadi “orang dapur”. Karena dalam besarnya gejolak diri dan ambisi yang ada. Ternyata saya lebih suka menjadi lelaki dalam sepi.
#MelangkahMenginspirasi



gambar disini

0 komentar:

Poskan Komentar