Selasa, 22 September 2015

Bagaimana Bisa Ku Ingin Akan Kesempurnaan?

Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila yang kucintai darimu adalah sebuah ketidaksempurnaan.

Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila kesederhanaanmu yang selama ini menyihir diri. Hingga mulut ini membisu. Hanya diam terpaku didepan kebersahajaanmu.

Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila hanya dengan seperti ini saja, bisa membawa ku bahagia. Tersenyum rapi dalam melodi indah. Menikmati representasi cinta tak terkira. Menghayati keteduhan rasa tiada tara.

Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila ketidak sempurnaanlah yang nantinya menyatukan kita. Engkau yang mengisi kekosonganku. Dan aku yang menutupi silapmu.

Kita saling membantu dalam keterbatasan. Saling membahu dalam sekat yang menghalang.

Maka biarlah aku memilih ketidak sempurnaan. Karena bila aku memilih kesempurnaan, aku tidak akan mungkin menemukanmu. Hanya berputar-putar, lalu kelelahan.

Biarlah aku memilih ketidak sempurnaan. Karena sebagai manusia di bumi, mana mungkin ku mengharap langit turun untuk memeluk ku. Berteriak-teriak tak menentu, menengadah tak jelas. Sedangkan yang terbaik sudah berada disamping.

Jadi, Kita biarkan saja kesempurnaan hanya berada di langit. Karena aku tak butuh kesempurnaanmu untuk meniti ketenangan cinta dalam kasih sayang-Nya.

Karena Ia Maha Sempurna, Maka kita saksikan Allah yang menyempurnakan ketidak sempurnaan kita. Hingga kita bertautan dari dunia sampai surga.

#MelangkahMenginspirasi



Cinta Lebih Butuh Pembuktian, Bukan Alasan

Terkadang kita terlalu sibuk membangun sebuah alasan akan mencintai. Merangkai ribuan kata, sambil menghitung-hitung apa saja yang telah terfikir di kepala kita.

Terkadang kita terlalu pandai menghimpun aksara, meramunya menjadi kalimat indah. Lalu di sampaikan dengan nada yang menyentuh hati.

Terkadang kita terlalu resah kala mulut membisu, badan membeku. Saat sebuah pertanyaan hadir. Tentang mengapa kita mencintai, tentang alasan sesuatu untuk dicintai.

Ketahuilah, tak perlu bibir ini kelu kala menyampaikan cinta. Karena cinta sungguh tak serumit yang engkau kira. Ia sederhana. Se-sederhana air yang mengalir, udara yang kau hirup, dan mentari pagi yang kau sapa.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu nyata. Seperti air yang berlari riang. Gemericiknya memanjakan telinga. Kesegaranya, menghapuskan dahaga. Ia warnai sekitarnya dengan kesejukkan. Ia bekerja, bukan bicara.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu ada.Seperti udara yang tak terlihat. Tak perlu ia tampak untuk menghidupi. Hanya dengan masuknya ia kedalam hidung. Dan mengitari tubuh. Ia buktikan cintanya kepada kita. Dan dengan karunia-Nya. Sang udara hadir untuk membawa oksigen kehidupan. Ia bekerja, bukan bicara.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu terasa. Seperti mentari pagi yang tersenyum dengan segala kehangatannya. Ia sinari wajah-wajah ceria untuk bekerja. Ia rasuki jiwa-jiwa manusia untuk membakar semangatnya. Ia tebar gelora hangatnya seantero dunia. Ia bekerja, bukan bicara.

Maka, tiada perlu engkau menjadi pujangga untuk mencinta. Katakan saja kau mencintainya karena memang kau mencintainya. Lalu kau hanya perlu buktikan. Karena cinta lebih butuh pembuktian dari pada alasan.

#MelangkahMenginspirasi



Senin, 21 September 2015

Tak Selalu Ada Kata Pengertian dalam Sebuah Ketulusan


Kadang kita terlalu sering menuntut akan sebuah pengertian orang yang kita sayang. Hingga keluarlah kalimat-kalimat dari mulut kita seperti bahwa “Ayah ku tak ngertiin aku” atau “Kamu kenapa sih sebagai sahabat ga pernah ngertiin aku?”

Bahkan dalam kerja-kerja dakwah dan kerja sosial kita, sering kali kita menuntut sebuah pengertian. Seakan-akan hanya itulah yang menenangkan hati, hanya itulah yang pengusap letih.

Tubuh ini melemah, semangat ini menurun. Dan tekad pun rapuh hanya karena tiada rasa pengertian dari orang-orang sekitar dalam kerja-kerja dan kehidupan kita.

Manusiawi? Ya benar, rasa ingin dimengerti adalah manusiawi. Tak salah. Sungguh tiada yang keliru dalam perasaan ini. Hanya saja bila rasa ingin di mengerti itu di sanding dengan sebuah ketulusan. Maka tidak ada keserasian didalamnya.

Karena pada dasarnya, sebuah ketulusan tak membutuhkan pengertian. Ia murni, ia suci. Ia akan tetap tegak tanpa ada yang mendukungnya. Tak perlu sebuah pemanis bernama pengertian untuknya tetap bergerak. Ia akan tetap menjadi ruh untuk karya-karya kedepannya. Dengan atau tiadanya pengertian.

Seperti Rasulullah yang tulus menyuapi orang yahudi nan buta dan tua renta. Ia tak butuh pengertian dari sang pengemis. Bahkan pengemis buta tersebut mencaci, memaki dan mengatakan hal-hal buruk tentang Rasulullah. Tiada rasulullah meminta pengertian sang pengemis, tiada Rasulullah meringis karena seseorang yang dengan hati-hati ia suapi makanan, malah mengatai ia dengan hal-hal buruk.

Sungguh tiada penuntutan akan sebuah pengertian. Rasulullah hanya diam dan menyuapinya dengan penuh ketulusan.

Layaknya hujan yang jatuh menyejukkan bumi. Ia tetap bekerja, melakukan apapun yang ia dapat kerjakan. Ia sirami tumbuhan yang kekeringan, ia penuhi sungai-sungai yang mulai surut. Ia buat sensasi dingin dalam bumi yang mulai panas tak terkira.

Ia tetap berkarya, walau kadang manusia menggerutu akan hujan yang datang membasahi jemurannya. Atau orang-orang yang berkeluh kesah akan bajunya yang kuyup. Hujan tetap tulus datang untuk dunia. Walau manusia tidak mengerti.

Maka tak perlu ada kata pengertian untuk sebuah ketulusan. Karena ketulusa begitu berarti bila hanya dibalas dengan sebuah pengertian. Ketulusan begitu mewah bila hanya dibalas sebuah keinginan untuk dimengerti.

Maka cobalah untuk tidak menuntut untuk ingin dimengerti.

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 16 September 2015

Hujan yang Indah, Walau Tidak Bulan Juni

Siapa yang tak mengira kedatanganmu. Tanpa permisi kau hadir. Membawa kesejukkan, membawa kesyahduan.

Kau warnai kesunyianku dengan melodimu. Kau harmonikan kesepianku dengan simfonimu. Kau gubah kesendirian ini dengan alunan nada yang menggugah.

Maka tiadalah yang lebih tabah dari mu. Karena siapa pula yang dapat merahasiakan rintik rindunya kepada bunga? Karena rindu merupakan hal rumit yang tiada terkira. Ia memberontak dalam dada. 
Menyiksa hati yang menyimpan kuat rasa itu.

Ia bawa diri ini berlayar dalam lamunan panjang. Ia tarik diri ini dalam ribuan tanya akan sosok kehadirannya.

Biarkan diriku menjadi bunga yang menyerah dalam kerinduan. Termangu dalam kekuyupan rindu yang mengguyur dan dengan tabahnya menyembunyikan rasa itu dalam kelopakku.

Aku kebingungan, aku tak berdaya. Tak kuasa diri ini berjalan dengan pasti karena aku tertawan. Ya, aku tertawan dalam penjara yang tiada penjara lebih indah darinya. Kau menawanku dalam setiap untaian katamu, kau menawan ku dalam setiap sikapmu, dan kau menawanku dengan segala tentangmu.

Dan sempurna kau membuatku gugup. Hingga setiap langkah kaki yang kugerakkan, selalu ditemani dengan keraguan.

Bijaklah hujan itu. Ia hapuskan jejak kaki keraguan itu dalam sepanjang jalanku. Walau kadang butiran cinta juga terhapus bersama jejak yang ku torehkan.

Maka, dalam gejolak yang mengaduk-aduk hati ini. Aku memilih untuk diam. Karena memang tak semua yang kita rasakan harus terucapkan.

Mungkin sebagian rasa begitu mengagumkan bila tersampaikan. Namun sebagian lain bisa lebih mempesona bila tak terungkap. Ia tertata rapi dalam keterdiaman. Walau kadang diri tenggelam dalam tak berdayaan.

Maka tiada yang lebih arif darinya. Ia biarkan kata-kata yang tak terucap. Terserap oleh akar-akar pohon bunga. Sampai Sang Maha Kuasa menghilangkan kata itu untuk dilupakan. Atau mengambilnya kembali untuk di reaslisasikan dibumi.

Hingga pada akhirnya, ku ingin berterima kasih kepada hujan. Ia tentramkan diri yang terpaku dalam kesenduan. Ia luruhkan segala rasa untuk menyerah yang dulu makin menderas.
Ia buat ini menjadi semakin indah. Walau ia tak jatuh di bulan juni.

Azmul Pawzi
- Sebuah Interpretasi Puisi Sapardi Djoko Damono berjudul hujan bulan juni -
 

Selasa, 15 September 2015

NU, Jenggot dan Islam Nusantara


Nahdatul Ulama merupakan salah satu organisasi tertua dan terbesar di Indonesia. Jasa NU dalam dakwah islam yang tertanam dalam pesantren-pesantrennya sehingga menghasilkan ulama-ulama tak perlu kita pertanyakan. NU itu sendiri didirikan oleh seorang ulama luar biasa bernama Hasyim Asy’ari. Beliau terinspirasi dari Muhammad Abduh yang sedang nge-trend kala beliau sedang mencari ilmu di mekkah.  Hingga kala pulang kampung ke Indonesia, akhirnya beliau mendirikan NU dengan salah satu semangat memurnikan islam.

Saya termasuk pengagum Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Beliau adalah sosok ulama besar patut kita ambil hikmah dari nasihat, kebiasaan dan perbuatannya. Namun akhir-akhir ini saya sedikit prihatin terhadap tubuh NU itu sendiri terutama bagian kepala (baca: Ketua). Tentu saja, Pak Said Aqil Siradj yang merupakan ketua NU menyampaikan sesuatu hal yang menyinggung ajaran umat islam. Yang dimana ajaran itu di laksanakan oleh bapak pendiri organisasi yang dipimpinnya.

Said Aqil dalam ceramahnya menyampaikan “Orang berjenggot itu mengurangi kecerdasan”, Ia juga menambahkan “Gusdur tidak berjenggot, Nurcholis Madjid tidak berjenggot, Quraish Shihab tidak berjenggot, yang cerdas-cerdas tidak berjenggot”.  Dan kalimat yang sungguh sangat melecehkan sunnah Rasulullah itu “Semakin Panjang Jenggotnya, Semakin Goblok”. Astaghfirullah aladzim. Semoga Allah mengampuni beliau. Karena menghina sunnah nabi adalah sebuah dosa. Dan kita juga berdoa kepada Allah agar kita semua senantiasa taat patuh kepada-Nya dan mengamalkan sunnah-sunnah rasulnya.

Saya sungguh tak habis fikir. Bagaimana bisa hal ini disampaikan seseorang yang dengan kedudukan ketua NU. Beliau menggembor-gemborkan Islam Nusantara. Mengatakan bahwa jenggot adalah arabisasi. Mengatakan bahwa islam nusantara memiliki kepribadian tersendiri. Dan memburukkan jenggot.

Sungguh jenggot adalah sunnah nabi yang secara jelas disampaikan nabi tanpa ambigu sedikit pun. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah bersabda“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.”. Sungguh para ulama sepakat ini, dan sabda nabi ini tak bisa dibandingkan dengar perkataan ulama seperti apa yang dilakukan para pembela  Said Aqil. Maka sebagai seorang muslim, tak pantas bagi kita mengolok-olok sunnah Nabi Muhammad SAW. 
 
Dan bila kita melihat dalam konteks NU itu tersendiri, KH. Hasyim Asy’ari berjenggot. Dan para penyebar islam di Nusantara, khususnya Wali Songo seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri dan berbagai ulama penyebar islam di nusantara juga berjenggot. Karena jenggot ini adalah sunnah islam.

Pernyataan jenggot mengurangi kecerdasan dan dibandingkan dengan orang-orang cerdas di Indonesia yang tak berjenggot, sungguh sebuah ungkapan yang tak bisa di pertanggung jawabkan. Bila Pak Said Aqil mengatakan orang berjenggot kurang cerdas. Padahal Imam Syafi’i, ulama yang madzabnya dipakai anggota-anggota NU memiliki jenggot yang lebat. Dan saya berani dan memastikan bahwa kecerdasan Imam Syafi’i jauh di atas orang-orang yang dicontohkan Pak Said. Dan tentu sangat jauh diatas Said Aqil Siradj yang nyeleneh bilang orang berjenggot goblok.

Bahkan KH. Hasyim Asy’ari itu sendiri adalah ulama yang berjenggot. Ulama-ulama Indonesia lainnya seperti KH. Ahmad Dahlam juga berjenggot. Mereka adalah ulama yang sudah masyur di bumi nusantara dengan kecerdasannya. Tidak goblok dan kurang cerdas seperti apa yang diucapkan Bapak Ketua NU tersebut.

Saudara ku semua, dalih arabisasi yang dipakai Said Aqil Siradj dan berbagai tokoh yang menggaung-gaungkan islam nusantara sesungguhnya merupakan langkah-langkah untuk menjauhkan kita dari ajaran Rasulullah SAW. Mereka ribut akan penampilan bahwa memakai jubah dan berjenggot itu arabisasi dan harus di tentang karena berlawanan dengan islam nusantara dan kepribadian bangsa. Namun mereka diam akan westrenisasi, amerikaisasi, koreaisasi dan berbagai fashion dan lifestyle lain menyerbu muslim Indonesia. Padahal serangan itu lebih membahayakan dari pada menyalah-nyalahkan ajaran Rasulullah.

Dan sesungguhnya, islam nusantara yang mereka gembor-gemborkan juga tak sesuai dengan islam itu sendiri. Karena Islam adalah agama yang universal. Dan dalam bahasa islam tak dapat disandingkan dengan kata apapun. Bila islam disandingkan dengan kata apapun, itu akan menyempitkan arti islam itu sendiri. Sebagai contoh motor. Bila kita menyandingkan kata motor dengan bebek sehingga menjadi motor bebek, ini akan menyempitkan arti motor itu sendiri.

Maka sesungguhnya, islamyang sebenarnya adalah islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah. Tidak ada islam nusantara, islam arab, islam jawa, islam minang, islam korea, islam amerika, islam eropa, islam syiah, islam liberal dan islam-islam lainnya. Karena islam hanya satu, yaitu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Bila dalam Al-Qur’an diperintahkan sesuatu, bila dalam Hadits di sunnahkan. Maka kita harus taat dan tidak boleh mengolok-ngoloknya.

Semoga kita dijauhkan dari propaganda-propaganda yang menjauhkan kita dari islam. Dan kita senantiasa berdo’a agar Nahdatul Ulama terselamatkan dari paham-paham orang ingin menyimpangkan pemahaman muslim Indoneisa. Dan NU menjadi organisasi yang membawa kemurnian islam. Islam yang sesuai Perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagai mana mimpi KH. Hasyim Asy’ari ketika mendirikan NU.

Azmul Pawzi  (Ketua Komisi A FSLDK Sumbar)

Sabtu, 12 September 2015

Rembulan yang Dirindui (1)

Siapa yang tak mengenalnya? Pemuda cerdas yag berdiri tegap itu, Ya, aku mengenalnya. Bahkan melebihi mereka-mereka yang setiap hari membicarakannya. Juga melebihi mahasiswi-mahasiswi yang berulang kali ku dengar berbincang tentangnya. Aku mengenalnya, karena memang tidak mungkin ku tak mengenalnya. Namanya terdengar syahdu. Ia menjadi kebanggaan kawan-kawannya, terutama teman-teman se-fakultasnya. Dan tentu saja, teman sefakulyasnya adalah teman sefakultasku.

 
Ia, seorang lelaki yang wajahnya bagai mentari yang menyinari semesta. Senyumnya membakar semangat. Tutur katanya halus dan penuh hikmah. Teman, senior dan junior telah banyak meneguk inspirasi darinya. Matanya tajam namun teduh. Menyorotkan sebuah kepedulian. Hingga gerak-geriknya ia lakukan untuk sesama.

Maka tak mengherankan, ia di tunjuk sebagai ketua himpunan dan melanjutkan menjadi ketua organisasi kepemudaan tingkat provinsi yang senantiasa bergerilya berjuang untuk masyarakat. Ya, aku menyaksikannya. Aku menyaksikannya sejak ia berproses di himpunan dan organisasi kepemudaan itu. Aku menyaksikannya sebagai anggota. Ia memiliki kepemimpinan mempesona, pengelolaannya rapi, orasinya menggelora. Tak mudah menemukan seseorang sepertinya.

Dan kini, di bandara ini, pemuda itu berada di hadapanku. Tidak, tidak, tidak hanya di depan ku. Lebih tepatnya di hadapan teman-temannya yang lain. Bahkan ia tak tepat di depanku. Karena aku lebih memilih untuk tak mendekatinya. Dan berdiri di kerumunan belakang. Tak kuasa rasanya tubuh ini berhadapan dengannya. Bahkan sampai detik perpisahan ini, aku tak pandai berbasa-basi dengannya walau hanya sekedar kalimat indah perpisahan. “Selamat tinggal dan hati-hati”, hanya itu yang ku ucapkan, tiada yang istimewa. Namun kau menyambutnya dengan senyum, senyum bagai sinaran mentari yang membuatku tak sanggup menatapnya dan memilih menunduk.

Beberapa saat berlalu, kau akhirnya berbalik, menuju ruangan untuk mempersiapkan mu terbang tinggi. Jauh, hingga mungkin ku takkan bertemu denganmu. Engkau pergi, dengan membawa tas penuh dengan mimpi untuk di realisasikan.

Langkahmu pasti, derap langkahmu mantap. Aku mengingatnya, dengan mata penuh harapan. Kau berulang kali kau mengulang ini, mimpi-mimpi mu yang akan kau torehkan pasca wisuda. Kau sampaikan dengan menggelora di berbagai pelatihan, kau ungkapkan dengan semangat pada motivation training. Hingga kini kau mendapatkannya, mimpi untuk ke negara kincir angin untuk melanjutkan studimu akhirnya kau raih. Hingga satuan gerak kakimu membuat kau jauh, jauh, dan mengecil hingga kau hilang dari pandanganku. Dan benar, sosok mu sudah tak terlihat, lenyap tak berbekas.

Aku tak menangis, sungguh. Bahkan berkaca-kaca saja tidak. Aku masih dapat tersenyum. Walau ku akui, ada suatu hal yang berguncang dibenak ini. Cukup keras, hingga sakit dada ini. Guncangan yang tak ku sangka bisa sebesar ini.

“fira.... fira...” Rahel memanggilku, memecahkan segalanya.

“yeee.... dia ngelamun, dah ikhlasin aja Ka Rizki itu pergi.” Lanjutnya

“Apaan sih lu, siapa juga yang ngelamunin dia.” Jawab ku cuek

“Yaudah, kita balik yuk. Anak-anak ngajak makan tuh” Ajak rahel kepada ku.

Aku pun mengangguk dan mengikuti langkahnya.
***
         
       “Kadang kita harus membuat jarak dengan seorang yang kita cintai untuk saling menjaga”. Pernah ku mendengar ungkapan itu, sebuah ungkapan yang mengitari isi kepalaku. Sebuah ungkapan yang menegaskan bahwa kita harus menjarak untuk saling menjaga. Agar tiada yang tersakiti, dan agar tiada yang di murkai oleh-Nya.
        
        Karena mungkin rasa yang bergejolak dalam jiwa ini membuat kita ingin mendekatinya, berbicara dengannya, bersenda-gurau dan berjalan bersamanya. Namun kita harus mengetahui, saat kita mendekatinya, itu akan menjadi jalan awal kenestapaan kita. Itu bisa menjadi nelangsa dalam hidup kita. Kita rapuh, serapuh iman kita karena berdekatan dengannya. Kita ringkih, seringkih ketaatan kita kepada Sang Maha Kuat karena gurauan bersamanya.
          
Maka, kita harus mencontoh sang bumi. Karena cintanya kepada matahari, ia jauhkan dirinya. Agar tiada yang tersakiti, agar tiada yang tercerai-berai. Ia menjarakkan tubuhnya agar dirinya tak hancur, rusak berkeping-keping. Ia rela. Rela untuk menjaga dirinya dan matahari dari kehancuran.

Lalu sambil membuat jarak kita tersebut, kita berdo’a kepada-Nya. Agar cinta yang mengakar dalam itu, dapat terrealisasikan. Agar mentari yang panas itu, diubah-Nya menjadi rembulan. Agar ia dapat berlari riang menemani bumi menjalani orbit hidupnya. Agar ia dapat menerangi bumi dalam kegelapan. Selama-lamanya, hingga Allah menentukan waktu keberpisahan.
  
        Menjarak untuk sebuah keterjagaan. Itu yang ku lakukan sejak ku melihatnya. Walau perih, walau sulit. Semua rasa itu, ku simpan rapat dalam hati dan ku jaga dalam-dalam. Karena Allah punya jawaban. Karena Sang Maha Indah memiliki skenario yang tentu indah nanti. Entah matahari itu tetap menjadi matahari. Atau ia berubah menjadi rembulan nan cantik parasnya.
          
      Biar ku disini, berjalan seorang diri, melihat mentari ku dari kejauhan, diam dan berulang kali menggamitkan untaian do’a. Agar rembulan yang dirindui itu hadir untuk menjawab segala jawaban. Agar rembulan itu datang untuk menghapuskan kesendirian.  (to be continue...)

Selasa, 08 September 2015

Untukmu Mahasiswa Baru, Ini 7 Hal yang Buat Kamu Jadi Mahasiswa Keren

Kala menapakkan kaki kita di kampus pertama kali. Pasti kita punya banyak keinginan dan mimpi untuk di capai. Lulus cepat atau memiliki kemampuan yang tentu bisa digunakan untuk kehidupan pasca kampus. Tapi terkadang kita bingung apa aja sih hal yang harus kita capai agar kita jadi mahasiswa keren dan tentunya kompetitif dalam dunia pasca kampus nanti. Ini 7 hal yang menurut saya kudu kamu penuhi selama di kampus.

1. Akademik yang Baik


Pict By Google
Jadi mahasiswa ya tugasnya belajar, masuk kuliah, ngerjain tugas dari dosen, buat paper, praktikum, asistensi dan lain-lain. Itu sudah barang wajib yang dijalani mahasiswa. Tujuan  kita kuliah tentu ingin memiliki kemampuan hard skill yang mumpuni sesuai jurusan yang kita ambil.
Nilai akademik yang baik tentu menjadi hal yang harus kita capai. Sekarang hidup susah bro, nilai bagus aja susah nyari kerja, apalagi nilai jelek.  Kalo ada yang bilang, banyak orang yang IP-nya kecil bisa sukses. Ya jangan telen mentah-mentah. Nasib tiap orang beda-beda. Jangan ada terlintas di keinginan kamu mau IP jelek. Kalo denger berita kayak gitu, fikirkan saja, IP jelek aja bisa sukses, apalagi IP Bagus. So, kuasai bidang yang kau pelajari dan baguskan nilai akademikmu.

2. Pengalaman Organisasi yang Dahsyat


Pict By FSLDK
Kemampuan memimpin, dipimpin, mengelola sebuah tim, tanggung jawab kerja dengan ritme tinggi adalah sekelumit hal yang tidak dapat kamu raih di bangku-bangku kuliah. Semua itu hanya dapat kamu dapatkan dengan aktif organisasi. Maka barang tentu untuk mendapatkan hal itu, kamu harus ikut organisasi.
Kamu bisa masuk organisasi sesuai minat kamu. Di kampus kan terdapat banyak organisasi, baik dalam bidang keagamaan, olahraga, kesenian, kajian, budaya, politik, dan organisasi umum. Nah, kamu bisa pilih organisasi yang kira-kira bisa meningkatkan kemampuan dan bakat kamu.
Dengan banyak pengalaman organisasi, sudah barang tentu kamu bisa meningkatkan kemampuan public speaking kamu, daya kritis, manajemen waktu, kepemimpinan dan lain-lain.

3. Prestasi yang Oke


Hasrat untuk berprestasi dalam diri adalah hal-hal yang harus kamu penuhi. Selagi masih mahasiswa, segala peluang untuk memenangkan berbagai ajang perlombaan dan kejuaraan terbuka lebar bagi kamu. Maka jangan kamu sia-siakan kesempatan ini. 

Kamu bisa ikut PKM untuk tembus ke PIMNAS, atau jika kamu jago dalam bela diri atau keolahragaan lainnya, kamu bisa berprestasi dalam bidang itu. Jika kamu suka menulis, kamu bisa berprestasi dalam bidang menulis dan karya ilmiah. Kamu yang suka bicara, bisa ikut lomba pidato atau debat. Dan banyak bidang lainnya.
 Cari kemampuan, minat dan bakat mu. Dan berprestasilah.

4. Mengikuti Berbagai Pelatihan, Seminar dan Pengembangan Kemampuan Lainnya


Saat ini pelatihan untuk mahasiswa sudah sangat banyak. Baik tingkat Kampus, Daerah, Nasional bahkan Internasional. Kamu bisa mengikutinya. Tinggal kamu lagi yang mau atau tidak.
Mengikuti pelatihan, seminar, meneguk inspirasi dan hikmah yang disampaikan para pemateri. Merupakan hal yang bisa kamu cari selama kuliah.  Semakin luas tingkat pelatihan yang kamu nikmati, semakin melimpah ilmu yang kamu dapat, semakin banyak teman sepelatihan yang kamu kenal.

 

5. Aktif Kegiatan Sosial Kemasyarakatan 

Pict By FKI Rabbani

Tugas mahasiswa sebagai Agent of Change, Social Control, dan Iron Stock tidak hanya di kampus-kampus saja. Kalo kata Anies Baswedan, "Mereka harus berkompetensi Internasional namun memiliki rasa kesetaraan akar rumput." 

Mahasiswa harus bergerak untuk masyarakat sejak ia masih menjadi mahasiswa. Maka dari itu teman-teman bisa membuat kegiatan yang dapat membangun masyarakat. Tidak hanya bakti sosial, teman-teman bisa buat komunitas untuk kota yang lebih hijau, teman-teman bisa buat gerakkan membaca, teman-teman bisa buat kegiatan peningkatan SDM anak-anak kecil di kota teman-teman. 
So, banyak gerakkan pembangunan masyarakat yang bisa kamu coba di daerahmu.

 

6. Membangun Jaringan yang Luas

 
Pict by google

Selama kuliah adalah saat yang tepat untuk memperbanyak teman, rekan kerja. Jangan sampai sampai kamu lulus kuliah. Kamu cuma kenal sebatas teman satu kelas, jurusan atau fakultas saja. Kamu bisa membuat jaringan teman hingga se kampus kamu, se kota kamu. Bahkan seluruh Indonesia.
Jaringan ini penting untuk mu untuk menghadapi kehidupan pasca kampus. Entah kamu mau bekerja atau membangun usaha. Dengan jaringan ini, bisa memudahkan kamu. Banyak teman, banyak rezeki.

Oh iya, jaringan luas ini bisa mempermudah kamu yang suka travelling. Terutama kamu yang suka travelling dengan dana pas-pasan. Setidaknya jika kamu memiliki jaringan yang menyebar tiap provinsi, bisa memudahkan kamu untuk tidur "gratis".
Dan bisa bilang ke orang tua pas kamu mau jalan-jalan , "Tenang aja bu, teman aku ada di setiap provinsi di Indonesia. Bahkan di Merauke sekalipun."
 

7. Ibadah yang Mantap

Pict By Google

Inilah hal mendasar. Percuma kamu memiliki kemampuan dan kehebatan lainnya jika kamu jauh dari Tuhan yang Maha Esa. Seluruh kehidupan kamu bisa dijadikan ibadah. Kuliah mu, bisa jadi ibadah. Semua kegiatan kemahasiswaan kamu bisa kamu jadikan ibadah. Jangan kamu kotori dengan perbuatan yang membuat Allah murka. Kayak Mencontek, Titip Absen, Pacaran, dan maksiat lainnya.
Tentunya Ibadah mahdhah seperti shalat wajib di awal waktu (berjamaah untuk cowok), shalat dhuha, shalat malam, tilawah qur'an, puasa sunnah dan ibadah lainnya juga kamu lakukan. Biar kamu tidak cuma keren di mata manusia. Tapi juga keren di mata Allah.


Finally, semua itu bisa kamu dapat semasa kamu kuliah. Tentu dengan mengurangi hidup santai mu, mengurangi main-mainmu. Serta memaksa mu untuk keluar dari zona nyaman mu.
Karena tidak ada pencapaian yang dicapai tanpa pengorbanan dan perjuangan. Berjuang untuk masa depan mu, untuk kebahagiaan orang tua mu, untuk agama dan bangsamu.
Semoga Allah meridhoi dan memudahkan langkah-langkah kita.
Semangat !!!!!! ^_^