Kamis, 18 Februari 2016

Tiga Proses Keutuhan Tarbiyah

Bukan hanya sekedar proses berubah, namun tarbiyah adalah karya memuliakan yang terhina, menyucikan yang ternoda, meluruskan yang tersesat. Maka tak heran, seorang tokoh pemikir islam Muhammad Quthb dalam Manhajut-Tarbiyah Islamiyah, mengartikan tarbiyah dengan sebuah kata yang sederhana namun menunjukkan makna yang begitu luas dan benar.
At-tarbiyatu fannu shinaa’atil insan, Tarbiyah adalah seni menciptakan manusia.


Bila tarbiyah itu disandingkan dengan kata islam, maka ia adalah menciptakan manusia dengan nilai-nilai islam. Maka tugas tarbiyah islamiyah adalah “menciptakan ulang” manusia kembali kepada fitrahnya setelah ia mengalami penciptaan ruh, akal dan jasadnya. Karena pada dasarnya Allah mencipta setiap insan sebagai muslim, namun orangtua dan lingkuangnya lah yang menjadikannya agama lain.

Dalam proses “penciptaan ulang manusia” ini, tentu setiap output yang diproduksi dengan tarbiyah islamiyah ini adalah sosok insanus shalih, dan tidak hanya shalih, namun juga muslih (menshalihkan sekitar). Oleh karena itu keutuhan proses tarbiyah harus memenuhi tiga komponen. Agar tidak ada yang parsial diakhirnya.

Tiga komponen tersebut adalah an-nafs, al-aql, dan al jism. Mengolah ini semua tidak bisa parsial. Ia adalah satu kesatuan yang harus dikembangkan, agar islam yang syumul terderivasi kepada seorang muslim. Ia tidak seperti golongan yang mementingkan sucinya jiwa namun dalam pola fikir gerakkannya jauh dari sunnah. Atau begitu banyak pemikiran ilmiah, namun jiwa yang kering. Atau menjadi intelektual yang lemah fisik.

Maka seorang insanus shalih harus melewati tiga proses dalam “penciptaan ulang manusia” tersebut. Yaitu amaliyatut-ta’allumil-mustanir, yaitu proses belajar berkesinambungan dan terus menerus. Inilah salah satu hikmah mengapa Allah memulai mewahyukan Al-Qur’an dengan kata Iqra, dan kata ilmu terulang 750 kali dalam Al-Qur’an. Karena memang stiap muslim harus senantiasa memenuhi otak dan meluaskan pengetahuannya.

Selanjutnya amaliyatus-syu’uudil-mustamir, yaitu proses pendakian terus menerus untuk menjadi lebih baik dan lebih baik. Dalam mendaki mungkin kita terjatuh, tersungkur, berpeluh dan letih. Namun melangkahkan kaki dalam mendaki jalan panjang dakwah ini senantiasa harus dijalani seorang muslim agar dapat berdiri di puncak kebahagiaan di surga-Nya.

Dan yang ketiga adalah amaliyatul ‘athaa-il-mustamir, yaitu berkontribusi dalam ruang dan waktu secara berkesinambungan. Karena pada dasarnya insanus shalih seorang yang senantiasa bergerak dalam menggerakkan roda dakwah. Dan mereka selalu melahirkan peristiwa. Dan memang gerakan dakwah akan terus hadir untuk dunia karena setiap peristiwa yang dikerjakan para punggawa dakwah.

Ketiga proses ini tak dapat terlewatkan satu-pun. Karena apa yang kita harapkan dari sesuatu yang tak utuh? Ia hanya menjadi sesuatu yang rapuh dan mudah tercerai berai bila keutuhan tak lagi digenggaman.

#MelangkahMenginspirasi



gambar 



0 komentar:

Poskan Komentar