Senin, 11 April 2016

Sewindu Menata Rindu ~ (Part 1)


    Aku coba menghela nafas perlahan sambil senantiasa memandang pintu masuk cafe. Memperhatikan setiap  orang yang lalu lalang. Melihat setiap wajah pengunjung dan menyaksikan setiap inci pergerakan pintu baik itu terbuka maupun tertutup.

Mulut ini diam, tak bersuara. Hanya jemari yang senantiasa memainkan sedotan jus yang sedari tadi tak terminum.  Sudah dua puluh menit berlalu, dan mata ku berulang kali hanya tertuju jam tangan dan pintu cafe. Walau sekali-kali menyimpulkan senyum ke teman-teman sekitar yang sibuk berbincang ria.
          
          Sekelilingku dipenuhi akan nostalgia mereka. Ada yang bersemangat bercerita kehidupan pasca masa putih biru, ada yang menyampaikan kesibukan mereka baik pekerjaan atau skripsi yang tak kunjung kelar. Ada juga yang tak henti berkelakar ditemani  meraka yang menjadi pendengar setia dengan sekali-kali menyumbangkan tawa. Walau dibeberapa titik ada pula mereka yang canggung-canggung, mencari celah untuk sekedar berkata “hai” kepada sang mantan. Mereka bersuka ria, larut dengan cerita-cerita menarik dalam reuni angkatan sekolah menengah pertama kami hari ini.
                
        Sedangkan aku? Ah, aku hanya lelaki penyendiri yang lebih memilih untuk diam. Hanya sibuk akan memori masa lalu. Menggali berbagai cerita yang pernah singgah. Memutar ulang kisah kami berdua. Maksudku cerita dua manusia—karena memang kita tak memiliki cerita berdua secara spesial. Merenung dan menunggu seseorang yang sekian lama ingin ku tatap.
         
        Seseorang yang namanya terpampang dalam list kehadiran yang di umumkan oleh panitia beberapa hari lalu, dan menjadi alasan mengapa aku ada ditempat ini sekarang. Sosok yang mengenalkan ku akan sesuatu yang selama ini sulit kurasakan. Karena ia telah merenggutnya secara penuh, habis tak tersisa. Hingga tak bisa ku curahkan rasa yang serupa ke lain wanita.

         Ya, jika di dunia ini ada yang namanya cinta pertama, maka aku merasakannya, bahkan hingga sekarang. Bukankah kata banyak orang cinta pertama tak pernah hilang? Ah, itu tak penting. Sekarang penantianku akan terbayar.
                
         Aku tak sabar menunggu, karena manusia mana yang senang dalam menunggu? Cinta memang seperti itu, dengan segala keindahannya Tuhan juga menanamkan perihnya rindu didalamnya. Maka setelah pengumuman kelulusan SMP terpampang, jadilah itu menjadi lembaran awal ceritaku menjadi pemuda yang tersiksa dalam pengelolaan rindu selama 8 tahun. Benar kata orang, love is sweet torment. Namun kini, rindu itu akan terbayar. Dan aku tak akan menghilangkan kesempatan ini.
                
       Adalah Najma, gadis lembut yang telah mengambil seluruh perhatianku kepadanya. Sesuai namanya, ia menjadi bintang yang menghiasi kelam malamku. Menjadi cahaya yang menyinari kesendirian diriku. Dan yang terindah. Mata sendunya, membuat indra ku tak pernah alfa dari semua tentangnya.

Dan itu semua berawal sejak saat itu. Sejak gadis berjilbab yang terbiasa duduk di sudut kelas dengan bukunya, dengan tiba-tiba ditarik beberapa siswi menuju depan kelas. Kala itu ia terkejut, wajahnya bingung mengapa teman-temannya membawanya ke depan kelas.
                
         Dan tiba-tiba kelas itu hening, tak bersuara. Kala seorang kakak kelas muncul dibalik pintu yang baru saja terbuka. Lelaki itu hadir dengan senyum di wajahnya. Langkahnya mantap ditemani sekuntum bunga di tangan kanannya. Kelas-pun menjadi semakin hening, hanya langkah kaki lelaki itu saja yang terdengar. Aku pun ikut terdiam, memandang tak acuh dari bangku paling belakang.
         
        “Najma, sebenernya, aku udah lama memperhatikan kamu.” Lelaki itu memulai kata-katanya. “Sifat mu yang lembut, wajahmu yang cantik dan kebaikan dirimu, telah membuatku jatuh cinta kepadamu.”
                
     Najma terdiam, kelas terdiam. Semua siswa dan siswi mendengar setiap kata-kata yang disampaikan lelaki itu. Hanya beberapa siswi yang tersenyum genit merasa tersentuh. Mungkin dalam hatinya berkata “kenapa bukan aku aja sih kak?”.
                
         “Aku gak mau panjang-panjang bicara.” Kakak itu melanjutkan. “Jadi aku langsung saja. Kamu mau ngga jadi pacar aku?”
                
        Sepersekian detik dari kata-kata lelaki itu, semua orang dikelas mulai berteriak. “Terima, terima, terima.” Beberapa siswa sambil menepuk tangannya agar suasana kelas makin meriah. Beberapa siswi berinisiatif membisikkan najma untuk menerimanya.
                
       Najma masih terdiam, lelaki itu masih tersenyum dengan bunga mawar yang ia pegang. Dan aku, masih merasa cuek atas pertunjukan “penembakan” di depan kelas. Bagaimana tidak, Lelaki yang menembak Najma adalah lelaki yang terkenal ganteng seantero sekolah, motornya juga bagus. Ia juga atlit basket yang mumpuni. Makanya ia menjadi idaman banyak siswi karena pesonanya.
                
        Maka aku hampir tak ambil pikir apa jawaban Najma. Karena track record kakak kelas itu tak pernah ditolak oleh siswi-siswi.  Dan dari gestur sang kakak kelas, ia merasa akan diterima dengan gadis yang baru saja ia tembak ini.
      
       Suasana makin ramai, sedangkan Najma masih terdiam. Kali ini iya menunduk. Mendengar teriakan teman-teman sekelas untuk menerima tawaran kakak kelas ganteng tersebut tak membuatnya bicara.
                
          “Gimana Najma?” Lelaki itu kembali bertanya, memastikan jawaban.
                
         Setelah sekian detik, Najma mengangkat kepala. Seantero kelas terkejut. Aku-pun juga terkejut menatap matanya. (Bersambung)


0 komentar:

Poskan Komentar