Rabu, 31 Agustus 2016

Kegelisahan itu Hadir – Serial Setapak Jalan Dakwah (Part 2)

Setidaknya saya setuju dengan apa yang dikatakan novelis penerima nobel dari jepang bernama Yasunari Kawabata. Ia berkata bahwa “Manusia yang tak mau gelisah, sesungguhnya ia telah mati”. Karena memang kegelisahan bagaikan gerigi yang memaksa seseorang untuk bergerak dan berpikir. Dan pastilah setiap perubahan besar dimuka bumi ini berasal dari sebuah kata yang bernama gelisah.

Setiap otak yang diisi kegelisahan akan memaksa dirinya mencari solusi dari masalah yang meresahkan diri. Semakin besar masalah yang dipikirkan, semakin besar juga kegelisahan yang menimpanya. Namun jika masalah besar itu ditemukan jalan keluarnya, maka semakin luas jugalah dampak yang dibuatnya.

Soekarno, Hatta, Natsir dan berbagai pahlawan bangsa ini dulunya hanya para pemuda yang gelisah. Mereka khawatir akan penjajahan yang merajalela. Pikiran mereka dipenuhi akan kebebasan yang terkungkung kolonialisme. Hati mereka tak nyaman akan imperialisme yang hadir di tanah kelahiran mereka. Menyimpan segala kegelisahan itu, naruni kepahlawanan dalam diri mereka memberontak. Mereka tak bisa memilih untuk diam dari segala gundah gulana didada mereka. Sehingga karena itu semua, mereka lahir menjadi sosok pejuang yang menjadi aktor kemerdekaan bangsa.

Seorang pahlawan butuh kegelisahan untuk bergerak. Seorang pejuang butuh kegelisahan untuk berkarya. Dan dengan kegelisahan itu pula yang membuat sebagian generasi awal islam menjadi pengikut setia Nabi Muhammad SAW dan memeluk islam. Layaknya Abu Bakar yang sejak awal tak menyukai berbagai maksiat dari kaum Jahiliyyah. Ketika Rasulullah hadir membawa ajaran Tauhid, ia menyambut dengan cepat. Seakan-akan setiap pertanyaan dalam jiwanya terjawab sudah, dan putra Abdullah itulah yang membawa jawaban atas pertanyaan yang menghantui dirinya. Juga Abu Dzar Al Ghifari yang rela bermandi keringat melewati teriknya gurun sahara. Berletih ria berjalan dari kampung halaman menuju mekah untuk menemui Muhammad SAW. agar sang Rasul membacakan perkataan yang ingin ia dengar. Yang mungkin perkataan itu telah menjadi pertanyaan besar dalam hidupnya yang membuat hatinya gelisah dan membawanya ke daerah kelahiran Sang Nabi.
Seorang pahlawan butuh kegelisahan untuk bergerak. Seorang pejuang butuh kegelisahan untuk berkarya.
Kegelisahan bisa menjadi awal cahaya islam masuk. Kegelisahan bisa menjadi jalan hidayah yang mengantarkan seorang manusia menjalankan islam secara paripurna. Dan seperti yang kita tahu, hidayah bisa hadir dari manapun dan kapanpun. Waktunya tak terduga, dan kita harus berjuang menyambutnya. Kadang dia hadir dari sebuah pertanyaan atau hal yang ingin sekali kita ingin tahu.

Membangkitkan kegelisahan dapat bermula dari berbagai hal. Dalam kasus diri sendiri, kegelisahanku hadir dengan cara yang begitu sederhana. Dia hanya berawal dari keingintahuan akan seseorang, dan menimbulkan sebuah pertanyaan “siapa dia?”

Kala itu setelah shalat berjama’ah isya, aku menyempatkan diri duduk-duduk di teras masjid sekedar berdiskusi atau mungkin hanya mendengar pembicaraan para jama’ah lainnya yang juga sedang mengobrol ringan. Dan entah darimana awalnya, obrolan malam itu tentang seorang pejuang islam yang meninggal ditangan pemerintah. Dan demi mendengar kematiannya, warga Amerika ketika itu sontak bahagia. Seorang yang menceritakan itu mengambil dari kesaksian seorang ustadz, yang dihari kemudian baru saya ketahui ustadz tersebut bernama Sayyid Quthb.

Maka karena rasa penasaran yang mulai memenuhi dada, aku bertanyalah tentang seorang yang disebut meninggal oleh makar dari pemerintah kepada Mas Fajar. Beliau adalah salah satu pengurus masjid yang sering memberikan saya ilmu keislaman selama saya tergabung menjadi remaja masjid.

“Hasan Al Banna ini siapa ya mas?”

“Dia itu pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin, salah satu gerakan dakwah yang berkembang pesat abad ini. Dan gerakan organisasi ini ditakuti oleh Amerika”

Ikhwanul Muslimin? gerakan dakwah? Amerika takut? pembunuhan? Jadilah dalam perjalanan pulang aku bertanya-tanya akan banyak hal. Manusia macam apa yang membuat dia ditakuti negara adidaya seperti Amerika sehingga pemerintah membuat makar untuk membunuhnya bahkan sampai meminta Rumah Sakit untuk tidak merawatnya agar dia meninggal karena kehabisan darah. Manusia macam apa Hasan Al Banna itu? Namun malam itu aku masih memendam pertanyaan itu. Belum ada upaya mencari tahu apalagi mempelajari pemikirannya.

Hingga esok harinya disekolah, seorang teman wanita yang berjilbab besar sedang komat-kamit sebelum bel pagi berbunyi. Karena penasaran lagi, aku bertanya ke wanita itu.

“Eh lu baca apaan?”

“Al-Matsurat mul.” Jawabnya singkat. Sungguh sejak kecil diri ini mengaji, bahkan hingga SMA masih berlanjut, belum pernah mendengar bacaan bernama Al-Matsurat.

“Apaan tu Al-Matsurat?” Tanya ku kembali. Lalu dia menyodorkan sebuah buku kecil dan tipis bertulis Al-Matsurat. Dan yang membuat ku tertarik, ada nama Hasan Al Banna dibagian sampulnya.

“Lu tau Hasan Al Banna? Dia yang nulis ini?”

“Engga mul, Al-Matsurat itu dari Al-Qur’an dan Hadits. Beliau cuma nyusun aja. Kalo Hasan Al Bannanya siapa, mmm gue juga lupa-lupa.” Jawabnya dengan sedikit tertawa.

Maka beberapa kejadian itu menjadikan aku semakin penasaran, barulah aku mulai bertekad untuk mencari tahu siapakah Hasan Al Banna itu, dan gerakan macam apa Ikhwanul Muslimin itu.”


Bersambung



0 komentar:

Poskan Komentar