Rabu, 24 Agustus 2016

Pada Mulanya – Serial Setapak Jalan Dakwah (Part 1)


Dalam buku berjudul Fityatun Amanu bi Rabbihim seorang ulama masyur dari Arab Saudi bernama Aidh Al Qarni memaparkan dua penyakit yang menimpa generasi muda, yaitu Syubhat dan Syahwat. Syubhat adalah penyakit yang menyerang pola pikiran manusia sehingga menjadi ragu terhadap Sang Maha Pencipta, membawa kesesatan hingga menyebar pemikiran atheis. Penyakit ini sangatlah berbahaya, karena ia menggerogoti pemikiran dan akan menjadikan penderitanya menjadi orang-orang sok pintar yang membahas Agama tanpa landasan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang pas.

Kita bisa saja mengambil contoh para pemikir islam liberal yang membuat pernyataan-pernyataan yang mengobok-obok pemikiran umat islam. Contoh pernyataan pemikir liberal yang seperti ini. “Agama adalah urusan pribadi dengan Tuhannya, jadi fokuslah ibadah kita masing-masing.

Maka lihatlah betapa banyak pemuda yang termakan dengan pemikiran ini. Sehingga ketika sebuah nasihat terlontar dalam tempat nongkrong mereka, tanpa waktu panjang akan banyak perkataan seperti “Lu urus sendirilah diri lu, biar gue urus diri gue” atau “Ga usah ceramah-ceramahin gue, lu kalo mau ceramah ke masjid tuh,  jangan disini.” Dan tentunya banyak lagi jawaban atas sebuah pernyataan itu. Pemikiran ini sungguh mengkebiri kebiasaan saling menasihati antar pemuda, sekaligus menghilangkan sosial kontrol yang ada di masyarakat. Sehingga bisa saja kemaksiatan merajalalela tanpa ada orang yan meluruskan.

Tentu saja itu baru satu contoh. Belum lagi berbagai pemikiran-pemikiran sok-sok filsafat yang membawa kepada kesyirikan. Seperti “Allah itu Maha Pencipta, apakah Allah dapat menciptakan Allah lainnya.” Atau “Semua agama itu sama, nggak perlu lah merasa agama paling bener.” Naudzubillah, inilah salah satu penyakit yang membuat para pemuda tersesat sehingga jauh dari Allah Azza wa Jalla.

Penyakit selanjutnya adalah syahwat. Ini menjadi penyakit yang begitu mengerikan. Karena bila syahwat ini tak terkendali, maka ia akan menjadi produsen dosa yang sangat sulit dihentikan. Karena syahwat ini menjanjikan kesenangan dan kebebasan. Kita ambil contoh tiga hal penyakit syahwat, pacaran, video porno dan mabuk-mabukan.

Sungguh, tiga hal ini bukanlah hal asing disekitaran pemuda. Berpesta dengan berbotol-botol anggur, berbatang-batang gele (ganja) dan berbagai hal memabukan lainnya. Muda-mudi berjalan ria, menghabiskan hari dengan suka cita, bergandeng tangan, tertawa hingga akhirnya hubungan badan atas hubungan pacaran. Hingga pemuda yang candu akan melihat video dan foto-foto porno.

Syubhat dan Syahwat, keduanya menjadi krisis, dan aku sebagai pemuda akhir zaman melihatnya, mendengarnya, bahkan merasakan berbagai penyakit umat ini. Maka izinkan aku bercerita tentang pengalamanku dalam melihat fenomena ini dalam kacamata sebagai pemuda.

Aku adalah pemuda yang lahir dan besar di Jakarta. Sebuah kota metropolitan yang menjadi pusat perkembangan berbagai hal, termasuk kehidupan sosial. Dalam beragamnya pergaulan di ibukota negara. Allah menakdirkan aku menjadi anak supel yang mampu menyesuaikan berbagai pergaulan. Maka jadilah aku seorang pemuda yang dapat merasakan berbagai pergaulan, baik itu anak-anak warnet yang sering main game online, anak jalanan yang kerjanya nongkrong pinggir jalan dan beberapa kali tawuran, anak band rock, anak-anak pintar yang kerjanya belajar, dan berbagai pergaulan lainnya. Semua pergaulan itu tentunya diluar aktivitasku yang juga menjalani berbagai organisasi dan ekstrakulikuler.  

Dalam beragamnya warna pergaulan maka wajar jika aku melihat berbagai kemerosotan umat. Yang anehnya pada saat itu ternyata para pemudanya (termasuk aku saat itu) mengatakan itu “keren”. Pernahkah kau melihatnya, seorang anak gadis kelas 6 SD menjadi pelampiasan syahwat para anak-anak kecil lainnya dan ternyata anak gadis itu senang?

Aku yang saat ini sesungguhnya tidak percaya, namun ternyata kehidupan masa lalu memang merekamnya sangat jelas. Ketika itu teman-teman seumuran yang kala itu berstatus siswa SMP kelas satu hingga kelas tiga sudah nongkrong di tempat biasa, di pinggir jalan belakang sebuah supermarket. Saat itu aku datang terlambat, kira-kira jam setengah 11 malam, dan langsung dikagetkan ada seorang gadis yang sudah dikelilingi teman-temanku dan melakukan ciuman bergantian dengan kira-kira ada 5 hingga 7 orang disana.

“Cewek dari mana tuh?” tanya ku penasaran.

“Katanya sih anak kampungan ******, kelas 6 tu bocah baru.” Jawab seorang temanku yang saat itu baru saja membakar rokoknya.

“Ko bisa disini tu anak?”

“Ngga tau dah, ketemu aja tadi. Di ajak nongkrong mau-mau aja die.”

“Dari jam berapa tu anak dimari?” Tanyaku lebih dalam.

“Yaelah banyak nanya amat dah lu mul. Kalo pengen gabung dah sono.” Kembali dia menjawab yang kali ini menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Ogah dah, males gue sama cewek dipake rame-rame gitu.” Jawabku singkat. Hal ini tidaklah bohong. Karena pada saat itu ekspektasi wanita yang ku inginkan waktu yang tidak semua lelaki bisa memegangnya dan juga aku masih takut dosa. Maklum saja, anak pengajian. Walau ku akui banyak isi pengajian itu yang tak terserap menjadi sebuah pemahaman. Maka jadilah aku saat itu seperti remaja biasanya, walau memang tidak separah yang lain.

Ketika malam semakin larut, tahukah kalian apa yang terjadi? Teman-temanku itu semakin beringas melakukan apa yang mereka inginkan ke gadis itu. Dan yang tak habis pikir, gadis itu senang-senang saja. Hingga setelah sekian lama, seorang diantara teman-temanku menyuruh agar jangan banyak-banyak yang disini. “Dua orang aja disini, jangan kebanyakan. Nanti gantian” begitu ucapnya. Dan akhirnya kami yang tersisa berpencar. Aku yang masa bodo dan ogah ambil pusing lebih memilih pulang dan pergi kerumah. Apa yang terjadi selanjutnya? Aku tak tahu, yang pasti mengerikan jika dibayangkan.

Tidak begitu lama aku mengikuti pergaulan dijalanan seperti itu, hanya beberapa bulan saja. Karena memang ketika itu adrenalin ku sudah terpompa dalam berselancar di dunia para gamer. Kehidupan bermain game online menjadikan aku pelanggan setia di warnet dan banyak waktu ku habiskan disana. Banyak hal yang ku alami dalam menjadi anak warnet ini. Misalnya di sebuah warnet yang menyediakan jasa paket malam dan tanpa aturan membuka situs apapun. Banyak kejadian yang jika ku ingat adalah hal yang seharusnya menjadi perhatian para orangtua.

Berulang kali kutemukan, anak-anak kecil sekitar kelas 1 hingga 4 SD di warnet membuka situs-situs porno. Bahkan mereka mengetahui alamat dan cara membukanya dari mas-mas yang juga membuka situs itu. Sungguh miris rasanya jika diingat saat ini. Mengapa aku yang dulu hanya memilih untuk tak ambil pusing dan fokus kepada game yang ku mainkan? Kenapa ketika itu aku bersikap tak acuh, bukannya mengingatkan mereka?  

Sungguh masalah pornografi ini bukanlah hal yang remeh-temeh. Ini adalah masalah umat yang harus diperhatikan para orangtua. Karena itu semua itu tidak hanya merusak moral seorang anak, bahkan menurut bunda Elly Risman dapat menghancurkan lima bagian otak. Dan hebatnya masalah ini, setiap anak-anak memiliki kesempatan besar untuk mengkonsumsi gambar-gambar haram itu dengan gadget dan internet yang dengan mudah mereka akses.

Dua contoh diatas sudah menjadi gambaran betapa mengerikannya dunia anak muda masa kini. Dan diluar itu semua entah sudah berapa banyak teman-temanku yang berbangga telah melakukan hubungan badan dengan pacarnya. Entah sudah berapa banyak teman-teman yang berhenti sekolah karena mereka hamil diluar nikah. Entah sudah berapa banyak teman-temanku yang dalam depresinya meminum anggur atau menghisap ganja. Entah sudah berapa banyak teman-temanku yang direhabilitasi karena masalah narkoba, bahkan ada yang tertangkap karena menjadi bandar narkoba. Entah sudah berapa banyak kesia-sia’an dan kehancuran pemuda yang ku lihat disekitaran diriku selama hidup.

Aku mengingatnya, aku mengenangnya. Banyak diantaranya yang dulu sangat dekat. Bermain dan tertawa bersama. Namun kini mereka menjadi korban atas kebringasan dan kerasnya kehidupan jahiliyyah modern.

Dan ini semua bukanlah sebuah dongeng, ini bukanlah cerita fiktif di negeri antah berantah. Ini adalah kehidupan pemuda masa kini kita jalani. Dunia yang ku lihat dan aku berada disana, yang mungkin kalian juga menemukan hal yang lebih mengerikan dari pada ini semua.

Maka inilah masalah pemuda masa kini. Inilah penyakit yang mengidap hingga kejantung kehidupan para generasi penerus. Apakah engkau juga melihatnya?

(Bersambung)

0 komentar:

Poskan Komentar